Logo
Pemakaman Jambon mayoritas berisi makam muslim

Nisan Salib Terpotong, Ketua RW: Sesuai Dengan Kesepakatan

Reporter:,Editor:

Selasa, 18 December 2018 13:21 UTC

Nisan Salib Terpotong, Ketua RW: Sesuai Dengan Kesepakatan

Makam Albertus Slamet Sugiardi di pemakaman Jambon Kelurahan Purbayan Kotagede Yogyakarta itu. Foto: Abdus Somad.

JATIMNET.COM,Yogyakarta - Nisan berbentuk salib pada pusara umat Katolik bernama Albertus Slamet Sugiardi dipotong pada bagian atasnya pada 17 Desember 2018 lalu. Tokoh masyarakat setempat menolak jika tindakan pemotongan disebut intoleran.

Kini nisan dalam pemakaman Jambon RT 53 RW 13 Kelurahan Purbayan Kotagede Yogyakarta itu menyerupai bentuk huruf “T” setelah terpotong bagian atasnya.

“Slamet itu meninggal di PKU Muhamadiyah, keluarga warga sini berduyun membantu warga yang berduka, di situ kita mencukupi ubo rampe untuk selamatan. Sudah diputuskan, dirembuk bahwa nanti dimakamkan di Jambon,’’ kata Slamet Riyadi, tokoh masyarakat Purbayan sekaligus Ketua RW 13 ditemui di rumahnya, Selasa 18 Desember 2018.

Warga membantu proses ubo rampe hingga pemakaman Slamet. Saat itu warga mengajukan dua syarat. Pertama jenazah dimakamkan di bagian pojok kompleks pemakaman agar tidak bercampur dengan makam penduduk muslim, serta kedua, tidak boleh ada simbol salib dan ritual ibadah di pemakaman tersebut.

“Jenazah dimakamkan di pojok tidak campur dengan yang lain. Kalau keluarga gak terima boleh dimakamkan di luar. Kedua pihak keluarga menerima pemakaman di pojok tapi dengan catatan tidak boleh berdoa di sana dan tidak diperbolehkan menancapkan simbol salib,’’ katanya.

Slamet Riyadi, tokoh masyarakat Purbayan sekaligus Ketua RW 13, memperlihatkan surat kesepakatan antara warga dan keluarga almarhum Albertus Slamet Sugiardi. Foto: Abdus Somad.

Menurut Slamet, proses itu sudah disepakati bersama secara lisan antara warga dan keluarga yang meninggal. Keluarga sudah menerima apa yang diminta oleh masyarakat di Purbayan, Kota Gede.

“Sudah disekapati, tidak ada masalah. Sebelum pemakaman kami sudah berembuk dengan Pak Narto selaku pengurus gereja bahkan surat-suratnya sudah dilengkapi,’’ terangnya.

Slamet melanjutkan, pemakaman di area Purbayan mayoritas muslim. Ia menjelaskan semua yang dilakukan warga bukanlah bentuk intoleransi. Semua yang terjadi pada kasus itu adalah bentuk toleransi bahkan dengan memberikan ruang bagi mereka di makam mayoritas muslim.

“Sini mayoritas muslim, yang non muslim ada 3 KK di antara 9 RT atau sekitar 350 KK, insiden itu kesepatan pihak keluarga dan pengelola makam. Kurang toleransi apalagi kami ini kalau sudah dikasih makam di sana,” lanjutnya.

Sementara itu pihak keluarga enggan di wawancara untuk dikonfirmasi soal kasus tersebut.