Mahasiswa UMM Malang Ciptakan Mesin Pengayak Pasir Bertenaga BBM

Dyah Ayu Pitaloka

Jumat, 24 Mei 2019 - 14:14

JATIMNET.COM, Surabaya - Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Mesin dan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan mesin pengayak pasir yang cukup inovatif dan lebih efisien, karena bertenaga Bahan Bakar Minyak.

"Mengayak pasir harusnya bisa dilakukan oleh satu orang saja. Tetapi pada kenyataannya harus dilakukan oleh tiga orang, bahkan lebih," kata Fajar Ibrahim dari Fakultas Teknik Mesin di Malang, Jawa Timur, Jumat, 24 Mei 2019.

Selain  Fajar, ada dua rekannya yang lain, yaitu Sabiq Nugroho dan Amirul Bagus Bintoro (Teknik Sipil).

Mesin pengayak bernama "Sinpangsir" tercetus dari keresahan ayah Fajar yang melihat para pekerjanya tidak efisien saat mengayak pasir.

BACA JUGA: Manfaat Ilmiah Berpuasa untuk Kesehatan Tubuh dan Mental

Penelitian dan percobaan-percobaan kemudian dilakukan untuk mendapatkan mesin yang efisien dan efektif serta mudah penggunaannya.

Sinpangsir, kata Fajar, memiliki beberapa keunggulan, di antaranya adalah penggunaan waktu yang efisien untuk memilah pasir halus dan kerikil.

Tabung pengayak sengaja didesain berbentuk segi delapan, karena setiap sudut dari segi tersebut memiliki fungsi sebagai penghentak sekaligus pemisah antara kerikil dan juga pasir.

Selain itu, Sinpangsir juga memiliki penutup pada tabung pengayaknya untuk mencegah berhamburnya pasir dan kerikil keluar tabung.

BACA JUGA: Diduga Melakukan Ritual, Tewas di Bukit Angker

Dari beberapa keunggulan, salah satu yang cukup menyita perhatian adalah mesin ini menggunakan bahan bakar minyak (BBM) premium, sehingga mesin ini dapat ditempatkan di mana saja tanpa harus mencari sumber daya listrik.

"Mesin pengayak pasir ini mampu menampung hingga 174 kg pasir dan mampu mengayak sekitar 17 ton per jam," kata Fajar.

Dengan biaya pembuatan mesin inovatif sekitar Rp 6 juta ini, inovasi tersebut didaftarkan di ajang Program Kreativitas Mahasiswa–Karsa Cipta Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti.

Karya ketiga mahasiswa ini mampu menembus Program Kreativitas Mahasiswa tingkat Monitoring dan Evaluasi (Monev) eksternal, sebelum nanti maju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Naional (PIMNAS) akhir Juni mendatang di Bali. (ant)

Baca Juga

loading...