"Go Digital", Supaya IKM Berdaya Saing Global

David Priyasidharta

Jumat, 22 Maret 2019 - 07:30

JATIMNET.COM, Bogor - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan model bisnis yang dijalankan di era ekonomi digital ini selalu berbasis teknologi dan informasi. Hal ini juga perlu diterapkan pada industri kecil dan menengah (IKM).  

Hal ini diungkapkannya di acara e-Smart IKM 2019 “IKM Go Digital” di Bogor, Jawa Barat, Kamis 21 Maret 2019. Dengan memanfaatkan teknologi digital, industri kecil dan menengah (IKM) akan mampu berdaya saing global.

“Upaya pengembangan IKM melalui pemanfaatan teknologi digital ini untuk memacu IKM nasional agar berdaya saing global,” tutur Airlangga dalam siaran pers yang diterima Jatimnet.com.

Airlangga meyakini, penggunaan teknologi era revolusi industri 4.0 akan mampu mendongkrak produktivitas industri manufaktur secara efisien, termasuk sektor IKM. "Bahkan, produk-produk yang dihasilkan bakal lebih kompetitif dan inovatif," katanya.

BACA JUGA: 25 Persen Produk IKM Tulungagung Patenkan Merek Dagang

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan, sepanjang tahun 2017, pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa atau setara dengan 54,68 persen dari jumlah penduduk yang mencapai 262 juta orang.

“Penetrasi penggunaan internet itu diharapkan juga dimanfaatkan untuk usaha-usaha produktif yang mendorong efisiensi dan perluasan akses pasar seperti jual beli online,” ujar Airlangga.

Kemudian, didukung pula dengan pengguna aktif smartphone di Indonesia yang terus tumbuh, dari 38,3 juta orang di tahun 2014 menjadi 103 juta orang pada 2018.

BACA JUGA: Soekarwo Berharap Bunga Kredit IKM Bisa Lebih Rendah

Kemenperin mencatat, hingga akhir tahun 2018, Workshop e-Smart IKM telah diikuti sebanyak 5.945 pelaku usaha dengan total omzet sebesar Rp 2,37 miliar. Berdasarkan sektornya, industri makanan dan minuman mendominasi hingga 31,87 persen dari total transaksi di e-Smart IKM, kemudian disusul sektor industri logam sebesar 29,10 persen, dan industri fesyen sebesar 25,87 persen.

“Hingga tahun 2019, ditargetkan bisa mencapai total 10.000 peserta untuk ikut dalam program ini,” ungkap Dirjen Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih.

Ia bahkan mengatakan sudah ada beberapa cerita sukses dari para pelaku usaha yang mengikuti e-Smart IKM, misalnya IKM suku cadang kendaraan, omzetnya mampu naik hingga mencapai Rp 100 juta dalam kurun waktu tiga bulan.

BACA JUGA: Kemenperin Kucurkan DAK IKM Ratusan Miliar

Acara e-Smart IKM ini berkolaborasi dengan 17 pelaku usaha dan teknologi seperti marketplace besar di Indonesia, logistik, perbankan, financial technology, dan information technology. Acara dikemas dalam konsep pameran, talkshow, dan workshop.

“Program e-Smart IKM juga telah bekerja sama dengan marketplace seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali, dan Gojek Indonesia,” ujar Gati.

Lebih lanjut, program e-Smart IKM akan memfasilitasi pelaku usaha agar dapat mengakses pasar yang lebih luas melalui kerja sama dengan ATT Group selaku Authorized Global Partner Alibaba.com di Indonesia.

“Kerja sama ini meliputi pelatihan pemasaran online bagi IKM dalam melaksanakan operasional di dalam Alibaba.com serta pertukaran data dan informasi mengenai perkembangan dan pencapaian IKM yang masuk di dalam program e-Smart IKM,” paparnya.

Baca Juga

loading...