Begini Markas Pengamen Banyuwangi saat Bersiap 'Tempur'

Ahmad Suudi

Sabtu, 20 April 2019 - 12:49

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Pengamen di pusat kota Kabupaten Banyuwangi memiliki markas khusus tempat mereka berkumpul sebelum berangkat 'bertempur' mencari rizki.

Jumlah yang datang tidak pasti, tapi paling banyak bisa 15 orang yang berkumpul dalam pondokan kayu di Jalan Tiga Berlian, Lingkungan Kampung Ujung, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi itu.

Dinding dari papan kulit pohon kelapa itu tidak rapat terpasang, hingga tak sepenuhnya mampu menghadang panas di siang hari, maupun dingin di malam hari. Kursi dan meja bekas dari kayu dan bambu di dalam ruangan tersedia bagi para pengamen untuk ngobrol, tidur, hingga latihan bermusik bersama.

Meski bukan tempat yang sempurna, dengan kasur lusuh dan bangunan terbuka, pondokan itu mampu menjadi tempat para pengamen siap-siap beraksi, berbagi wilayah kerja, dan beristirahat saat kembali. Apalagi fasilitas kamar mandi umum dan warung bisa dijangkau dengan sekali lompat.

BACA JUGA: Barong Banyuwangi Harapkan Pemerintah Dukung Kebuadayaan Lokal

"Berangkat dari rumah tidak langsung ngamen, tapi di markas dulu ngobrol, asar baru berangkat," kata Eko (33), salah satu pengamen asal Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro, kepada Jatimnet, Sabtu 20 April 2019.

Dia mengatakan pengamen yang berasal dari Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Glagah dan Banyuwangi itu kebanyakan berangkat dari rumah pagi hari. Tinggal di rumah tanpa aktivitas membuat mereka merasa suntuk. Berbeda bila melakukan berbagai kegiatan bersama di pondokan yang berada di depan gerbang area wisata Pantai Boom Banyuwangi itu.

Mereka semua merupakan pengamen yang biasa bermusik sambil berkeliling dari rumah ke rumah di Kecamatan Banyuwangi dan sekitarnya, di tempat-tempat pedagang kaki lima dan berbagai festival di Banyuwangi. Tak jarang kisah-kisah saat mengamen diceritakan seseorang dan menjadi pengalaman bagi yang lainnya.

"Kami juga diskusi bagaimana cara menghadapi kasus-kasus itu. Tempat ini untuk istirahat, berkumpul, pokoknya manfaat banget wes," kata Eko lagi.

Kegiatan berlatih bersama menjadi kesempatan meningkatkan kemampuan bermusik, karena mereka tetap menawarkan musik untuk menghibur pendengar. Dengan kemampuan bermusik yang terus diasah, sebagian warga bersedia membayar mereka lebih banyak dengan permintaan dinyanyikan dua hingga empat lagu.

"Pas lagi kumpul, latihan main musik bareng rasanya kami sudah seperti saudara," kata Jaya (25), pengamen lainnya menggambarkan kesenangan komunitas saat berlatih bersama.

Ramang Ramli Rakasiwi (54) adalah sosok yang menyediakan tempat itu bagi para pengamen, yang dulu dia temui beristirahat di tepi-tepi jalan. Disapa dan daiajaknya pengamen itu satu per satu sejak tahun 2013, untuk singgah di tempat yang dia kelola sebagai tempat produksi pupuk organik itu.

BACA JUGA: 258 Siswa Ikuti Ekstrakurikuler Khusus Tinggal di Kampung

Namun malang tak dapat ditolak, stroke menyerangnya tahun 2018 hingga produksi pupuk organik itu berhenti sampai saat ini. Sementara di situ pula istrinya, Khotimah (55), mengelola warung nasi dan toko kelontong yang jadi sumber rezeki keluarga, serta toilet umum berbayar yang juga kerap digunakan para pengamen.

"Pengamen yang menginap di sini tidak saya minta uang, mandi-mandilah. Tapi kalau makan ke warung istri saya, ya harus bayar," ujar Ramang.

Ramang merupakan pegiat lingkungan yang telaten mengurusi sampah, memilah dan mengolah menjadi pupuk kompos yang terbukti menyuburkan tanaman.

BACA JUGA: Kampoeng Batara Antar Anak Pelosok Menembus Impian

Pada tahun 2011 dia membentuk kelompok masyarakat peduli lingkungan Maskot, dan aktif berkegiatan untuk kelestarian lingkungan,
hingga diganjar penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur pada tahun 2015.

Ramang juga sempat melatih para pengamen mengoperasikan mesin penggiling pupuk kompos, bahkan proses dari awal hingga akhir, sebelum akhirnya stroke mengubah kondisinya.

Meski keadaannya demikian, dia tidak berniat berhenti memberikan tempat pada para pengamen, bahkan setelah beberapa pernah berhutang nasi pada istrinya dan kabur.

"Pengamen yang masuk harus dikenal sama pengamen yang sudah ada. Kalau nggak ada yang kenal tidak boleh," kata Ramang yang kini kesulitan berbicara karena sakit yang dideritanya.

Baca Juga

loading...