JATIMNET.COM, Malang – Generasi milenial mana yang tak kenal air terjun Coban Sewu/Tumpak Sewu. Para pengguna media sosial tak asing dengan pesonanya yang banyak disebut kalangan warganet sebagai Niagara-nya Indonesia. Ini bisa dibuktikan dengan postingan mengenai destinasi wisata ini yang mencapai ratusan ribu di internet.

Penelusuran Jatimnet di internet per tanggal 7 November 2018 terlihat jumlah postingan mengenai air terjun ini mencapai 209 ribu dengan kata kunci “coban sewu”. Sedangkan jika menggunakan kata kunci “tumpak sewu”, maka mesin pencari google akan memunculkan jumlah 155 ribu postingan. Di media sosial Instagram, tagar dengan kata #cobansewu mencapai 15,3 ribu dan tagar #tumpaksewu sebanyak 24,7 ribu postingan. Jumlah ini belum yang diposting warganet di media sosial twitter dan facebook.

Beragam angle foto yang sudah tersebar di dunia maya. Baik diambil dari sisi Kabupaten Malang maupun Lumajang. Ada juga yang mengambil gambar dengan drone. Tak kalah indahnya pengambilan foto dengan mengambil sudut pandang dari bawah. Tentu dengan terlebih dulu bersusah payah turun ke dasar sungai yang jalannya curam dan licin.

Air terjun ini berada di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur. Tepatnya di Dusun Jagalan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, atau di sisi timur sungai. Sedangkan di wilayah Malang masuk wilayah Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, atau di sisi barat sungai.

Akses dari Malang cukup mudah dijangkau. Dari Kota Malang, lokasinya berjarak sekitar 71 kilometer dengan waktu tempuh 2,5 jam. Jika mengendarai kendaraan roda empat, harus ekstra sabar, karena jalan provinsi mulai dari Kecamatan Dampit berkelok-kelok dan tidak lebar. Terkadang sering antre karena banyak kendaraan pengangkut pasir dan batu yang lewat.

Sesampai di wilayah Kecamatan Ampelgading, rambu petunjuk di kiri jalan sebagai petunjuk lokasi memudahkan wisatawan menuju lokasi. Masuk ke gang desa di sebelah kanan jalan. Sekitar 200 meter terlihat pintu masuk dan menuju lokasi.

Meski tidak segencar Kabupaten Lumajang dalam promosi wisata air terjun ini, wisatawan lokal maupun mancanegara juga banyak yang memilih akses dari Malang untuk melihat destinasi wisata alam yang pernah masuk menjadi nominator surga tersembunyi terpopuler di Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata.

Salah satu kelebihan lewat jalur Malang, kebun buah salak dan kopi akan menyambut pengunjung setelah melewati pintu masuk. Tak lebih dari 20 meter saja jalur dari pintu masuk yang sudah dicor. Selebihnya jalan setapak yang menurun. Gemuruh suara air terjun akan terdengar selepas melewati kebun salak, yang kalau sedang berbuah bisa dibeli dengan harga murah.

Setelah berjalan turun sekira 5 menit, sedikit demi sedikit mata kita akan melihat deretan air terjun mulai dari sisi timur hingga barat. Ada air terjun utama yang berada di tengah. Sedangkan puluhan aliran air keluar dari dinding-dinding tebing. Tinggi air terjun ini sekitar 120 meter dan airnya mengalir ke bawah menuju Lumajang yang disebut Sungai Glidih.

Ada beberapa titik untuk berswafoto di lokasi ini. Seluruh air terjunakan terlihat mulai dari ujung kiri hingga barat. Dasar air terjun juga bisa terlihat dari atas. Sebaiknya hati-hati ketika mengambil swafoto karena tebingnya curam dan licin ketika musim hujan. Sekitar tiga titik lokasi yang bisa dijadikan ajang berfoto ria.  

Jika puas berfoto di atas, pengunjung bisa turun ke dasar sungai. Tentu tak mudah karena jalannya curam dan licin dengan diawali dengan tangga yang terbuat dari besi. Yang pasti akan menguji adreanalin. Pengambilan foto dari bawah juga tak kalah menawan dibandingkan dengan menggunakan drone yang mengambil gambar dari atas.

Pengelolaan destinasi wisata ini di Malang dilakukan oleh sekitar 10 orang warga Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading. Ibu Sri, seorang yang dipercaya menjaga loket mengatakan, pada awal-awal dibuka sekitar tahun 2015-an, yang mengelola pihak Perhutani, namun setelah jalurnya banyak yang rusak ditinggal begitu saja.

Warga setempat kemudian bermusyawarah bagaimana agar wisatawan tidak kecewa ketika berkunjung ke air terjun karena jalan menuju ke dasar sungai rusak. Maka secara swadaya warga mengelola dengan membuat tangga dari besi untuk jalur yang terlalu curam dan ekstrem.

“Kasihan kalau yang datang dari jauh tidak bisa turun ke dasar sungai,” kata Bu Sri, kepada Jatimnet, Rabu 7 November 2018.

Dengan tiket masuk Rp 10 ribu dan parkir kendaraan roda dua Rp 5 ribu, pengunjung bisa menikmati sepuasnya pamorama air terjun coban sewu mulai dari atas hingga turun ke dasar Sungai Glidih.

Saling Klaim Serpihan “Surga” Coban Sewu

Lokasi air terjun Coban Sewu/Tumpak Sewu yang berbatasan ini membuat hubungan Kabupaten Malang dan Lumajang sedikit memanas. Pesonanya tak hanya mampu menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri, tapi juga dua kabupaten, Malang dan Lumajang yang terus berpolemik terkait lokasi “surga yang tersembunyi ini.

Terbaru, Anugerah Wisata Jawa Timur 2018 kembali menjadi pemicu polemik kepemilikan air terjun ini. Sebab, juara pertama kategori wisata alam diraih air terjun Tumpak Sewu yang diikutkan Pemerintah Kabupaten Lumajang.

Dinas Pariwisata Kabupaten Malang memprotesnya, karena secara teritorial menurut Permendagri Nomor 86 tahun 2013 air terjun ini masuk wilayah Kabupaten Malang. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Malang, Made Arya Wedanthara mengaku hanya ingin meluruskan berdasarkan Permendagri tersebut. “Kami hanya ingin meluruskan berdasarkan pemendagri itu,” katanya singkat.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang, Eddy Hozaini saat dikonfirmasi Jatimnet menjelaskan, jika yang menjadi dasar Pemerintah Kabupaten Malang adalah batas wilayah sesuai Permendagri Nomor 86 tahun 2013, maka batas alam untuk di sungai itu berada di tengah.

“Kemudian kalau kita yang Tumpak Sewu berada di sisi Timur Sungai, sedangkan di sisi barat-selatan wilayah Malang, Coban Sewu. Kalau soal abtas sudah itu,” kata Eddy, Rabu malam.

Eddy meluruskan bahwa, orang Lumajang tidak mengklaim, tapi memang namanya air terjun pemandagannya bisa dilihat dari Lumajang. “Kalau menurut pak bupati seperti itu, kami tenang-tenang saja, memang tidak mengklaim,” katanya menambahkan.

Ia juga melihat kalau air terjun itu lebih dikenal dengan nama Tumpak Sewu yang dipromosikan Pemerintah Kabupaten Lumajang sejak 2013 dan baru diresmikan pada tahun 2015. “Sekarang sudah tertata rapi, ada homestay, fasilitas toilet, pemandu, semua yang membuat nyaman pengunjung disediakan,” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur tidak mau terlibat dalam polemik destinasi wisata Coban Sewu atau Tumpak Sewu. Dinas sudah mengirimkan surat kepada dua daerah, Pemkab Lumajang dan Pemkab Malang untuk bersama menyelesaikannya.

“Kalau soal kewilayahan sebenarnya bukan kewenangan kami, tapi tentu berahrap dua wilayah ini bisa menyelesaikan secara arif,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Sinarto saat dikonfirmasi via ponselnya, Rabu 7 November 2018.

Sinarto membenarkan bahwa air terjun Tumpak Sewu mendapatkan penghargaan Anugerah Wisata Jawa Timur 2018. Sinarto berdalih jika objek yang diajukan Pemkab Lumajang adalah objek yang berbeda dari yang diklaim Pemkab Malang.

Dia menjelaskan, data yang diperolehnya menyebutkan, Tumpak Sewu-yang diklaim Pemkab Lumajang- dikelola oleh desa wisata yang berada di kawasan Kabupaten Lumajang. “Jadi Tumpak Sewu itu berbeda dengan Coban Sewu. Ada data-datanya, beda desa dan beda kecamatan,” kata Sinarto menjelaskan.

Ia tidak menjelaskan lebih rinci lantaran belum mendapat data yang lebih lengkap mengenai polemik destinasi yang hits di dunia maya ini. “Nanti kita sampaikan lagi kalau sudah ada data-data yang lebih valid,” ujarnya.

Menurutnya, Pemprov Jawa Timur siap mendampingi dua kabupaten ini untuk mengembangkan air terjun dengan pengelolaan yang lebih serius dan bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat secara lebih luas. Sebab, “surga” tersembunyi di selatan Jawa Timur inikarena memiliki potensi yang luar biasa.

Kalau saya ingin fokus pada pengelolaan kepariwisataannya agar membawa nilai ekonomis bagi masyarakat. Ayo ditoto seing apik (Ayo dikelola dengan baik),” kata Sinarto mengakhiri.

Potensi pariwisata di Jawa Timur memang sangat menjanjikan. Mengutip data Disbudpar Jawa Timur, jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Jawa Timur selama tahun 2017 sebanyak 65.623.535. Jumlah ini naik 13,01 persen dari tahun 2016 yang berjumlah 58.068.493. Sedangkan jumlah hingga triwulan 2 tahun 2018 mencapai 15.681.166 orang.

Dari segi pengeluaran, jumlah per hari rata-rata pengeluaran wisatawan nusantara Rp 239.089 dengan lama tinggal rata-rata 1,70 hari. Jika ditotal pengeluaran wisatawan nusantara di Jawa Timur mencapai Rp26,672 triliun.

Untuk kunjungan Wisatawan Manca Negara (Wisman) ke Jatim selama tahun 2017 mencapai  690.509, meningkat 11,62 persen dari tahun 2016 sejumlah 618.615. Sedangkan kunjungan wisman sampai triwulan 2 tahun 2018 mencapai  53,608.

Total pengeluaran wisman tahun 2017 sebesar 573,19 dollar AS dengan pengeluaran rata-rata per hari 138,38 dollar AS dengan lama tinggal rata-rata 6 hari.

Melihat data-data di atas, Kepala Disbudpar Jatim Sinarto menyebutkan jika kontribusi pariwisata terhadap PDRB Jatim tahun 2017 sebesar Rp 117,428 triliun atau 5,82 persen. Itu berarti PDRB sektor pariwisata ada kenaikan sebesar 10,49 persen dari tahun 2016-2017.