KNKT Kritik Manajemen Pelabuhan Ketapang, Orang Bebas Keluar Masuk Kapal

Berpotensi Penumpang Selundupan di Luar Manifes
Ahmad Suudi

Reporter

Ahmad Suudi

Rabu, 30 Juni 2021 - 15:00

Editor

Ishomuddin
knkt-kritik-manajemen-pelabuhan-ketapang-orang-bebas-keluar-masuk-kapal

INVESTIGASI. Bambang Irawan, investigator Keselamatan Pelayaran KNKT di Pelabuhan PT ASDP Ketapang, Banyuwangi, Rabu, 30 Juni 2021. Foto: Ahmad Suudi

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mulai melakukan investigasi tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Yunicee di Selat Bali pada Selasa malam, 29 Juni 2021.

Selain menyelidiki kelaikan kapal, tim KNKT juga menginvestigasi manajemen dua pelabuhan di Selat Bali yakni Pelabuhan PT ASDP Ketapang, Banyuwangi, dan Pelabuhan PT ASDP Gilimanuk, Bali.

Di hari pertama investigasi, tim KNKT menemukan kekurangan pengelolaan Pelabuhan PT ASDP Ketapang dalam hal menghindari kecelakaan, yakni terlalu membiarkan orang yang keluar dan masuk dermaga pelabuhan tersebut dan berisiko kapal memuat penumpang dan barang di luar manifes keberangkatan.

BACA JUGA: Korban KMP Yunicee Tenggelam, 6 Orang Meninggal dan 14 Belum Ditemukan

Barang atau orang yang terselundup masuk ke kapal seperti itu menyebabkan jumlah dan bobot muatan sebenarnya tidak sesuai catatan di manifes keberangkatan.

Tim menilai bila ternyata jumlah dan bobot muatan berlebihan dan tidak terdata bisa menimbulkan risiko besar tenggelamnya kapal penyeberangan Selat Bali tersebut.

KECELAKAAN LAUT. KMP Yunicee sebelum tenggelam di Selat Bali. Sumber: media sosial

“Akses menuju kapal ini masih sangat terbuka, orang lain, teman-teman bisa lihat ada kalanya buruh-buruh pelabuhan bisa keluar masuk kapal dengan bebas," kata Investigator Keselamatan Pelayaran KNKT yang turun ke Banyuwangi, Bambang Irawan, Rabu, 30 Juni 2021.

Namun dia belum membuat kesimpulan terkait penyebab pasti tenggelamnya KMP Yunicee.

BACA JUGA: Satu Keluarga Jadi Korban Tenggelamnya KMP Yunicee, Sebagian Sudah Dimakamkan

Berbagai kemungkinan penyebab tenggelamnya kapal masih terbuka, seperti kebocoran, kelebihan muatan, kondisi kapal, mutu perawatan, hingga cuaca saat kejadian tenggelamnya kapal.

Bambang mengatakan pihaknya memiliki waktu satu bulan untuk mengumpulkan informasi di Pelabuhan Ketapang, Gilimanuk, dan di Selat Bali di lokasi tenggelamnya kapal.

Proses selanjutnya adalah analisis yang bisa berlangsung tiga bulan hingga satu tahun dan bisa saja melibatkan akademisi kampus tertentu.

BACA JUGA: Korban KMP Yunicee yang Ditemukan Meninggal Dunia Bertambah Satu Orang

“Jadi kita akan mencari dulu, menemukan semua data-data, baru nanti akan kita pelajari, kita analisa, dari situ kita bisa mendapatkan suatu kesimpulan," kata Bambang.

Sebelumnya diberitakan KMP Yunicee tenggelam berjarak sekitar 500 meter sebelum sandar di dermaga Pelabuhan Gilimanuk, Bali, Selasa, 29 Juni 2021.

Berdasarkan data Badan SAR Nasional (Basarnas) Bali, terdapat 41 penumpang, 13 anak buah kapal (ABK), dan tiga orang pelayan kantin di dalam KMP Yunicee. Tujuh orang meninggal dunia, sekitar 13 orang hilang, dan sisanya berhasil diselamatkan.

Baca Juga