Bupati Banyuwangi Pertimbangkan Perpanjangan Status Tanggap Darurat Kebakaran Hutan

Ahmad Suudi

Reporter

Ahmad Suudi

Minggu, 27 Oktober 2019 - 14:13

bupati-banyuwangi-pertimbangkan-perpanjangan-status-tanggap-darurat-kebakaran-hutan

DARURAT. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pos pendakian Kawah Ijen setelah dilanda kebakaran hutan, Selasa 22 Oktober 2019. Pemerintah menetapkan status tanggap darurat kebakaran 22-28 Oktober 2019. Foto: Ahmad Suudi

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mempertimbangkan untuk memperpanjang status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Pegunungan Ijen.

Sepekan terakhir, kebakaran di pegunungan itu terjadi. Api diperkirakan bermula dari Gunung Ranti pada Sabtu, 19 Oktober 2019 dan terus menyebar ke Gunung Ijen dan Merapi Ungup-ungup.

Pada Selasa, 22 Oktober 2019, pemerintah menetapkan status tanggap darurat bencana dan berlaku hingga Senin, 28 Oktober 2019. Selain itu, pemerintah menunjuk Komandan Kodim 0825 sebagai pemimpin operasi pemadaman.

“Malam ini saya rapatkan, besok saya sampaikan ke teman-teman apakah kita perpanjang atau tidak (status tanggap darurat bencana),” kata Anas, Minggu 27 Oktober 2019.

BACA JUGA: Hari Ini, Bom Air Dijatuhkan untuk Padamkan Kebakaran di Ijen

Menurut dia, kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir November menjadi dasar pengeluaran status tanggap darurat sebelumnya. Sementara keputusan untuk perpanjangan status akan diputuskan berdasarkan hasil rapat pada Minggu malam ini.

Ia mengatakan bersyukur di antara sejumlah peristiwa kebakaran hutan dan lahan di daerah lain di Jawa Timur, Banyuwangi masuk dalam prioritas penanganan. Terlebih, dengan kawah ijennya, Pegunungan Ijen merupakan tujuan wisata.

HANGUS. Kondisi lahan di Pegunungan Ijen pascakebakaran. Foto: Ahmad Suudi

Sepanjang Minggu hari ini, helikopter tercatat menjantuhkan bom air sebanyak 14 kali di Gunung Merapi Ungup-ungup dan Gunung Ranti. Bahan baku air, yang mencapai 4 ribu liter sekali angkut, dilaporkan bersumber dari air laut di Selat Bali.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Eka Muharram Suryadi mengatakan sekali naik helikopter akan menembakkan air selama sekitar 3 jam. Menurut lisensi yang didapatkan, water boombing mendapatkan jatah waktu hingga Selasa, 29 Oktober untuk beroperasi di Banyuwangi.

BACA JUGA: Kebakaran di Pegunungan Ijen, Api Mengarah ke Pertanian Warga

"Selain itu, bila operasi pemadaman dirasa masih diperlukan hingga beberapa hari ke depan, maka Pemkab Banyuwangi siap memperpanjang masa tanggap darurat. Kami siapkan suratnya," kata dia.

Selain water boombing, ia mengatakan, pemadaman juga dilakukan di darat dengan mobil tangki air dan selang sepanjang 300 meter. Tiga hari terakhir, air pemadaman di darat dicampur deterjen agar yang bara api tak muncul kembali.

Selain itu, lanjut dia, pemadaman juga dilakukan dengan menggepyok atau memukul api dengan dedaunan dan ranting. Tapi cara itu dianggap memiliki keterbatasan untuk memblokade api tak merambah daerah lain.

Menurut dia, pemadaman api dengan air deterjen berdasarkan pengalaman di lapangan. Ternyata api bisa muncul lagi setelah disemprot air biasa. Agar deterjen tak merusak lingkungan, jumlah deterjen disesuaikan dengan kebutuhan. “Itu air dicampur dengan deterjen dengan takaran yang memadai sehingga tidak menimbulkan kerusakan secara signifikan," kata dia.

Baca Juga