Permintaan Turun Akibat Covid-19, Harga Biji Kopi Anjlok 40 Persen

A. Baehaqi

Reporter

A. Baehaqi

Rabu, 27 Mei 2020 - 09:40

Editor

Ishomuddin
permintaan-turun-akibat-covid-19-harga-biji-kopi-anjlok-40-persen

OMAH KOPI. Tempat wisata edukasi Omah Kopi Telemung di Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, diminati wisatawan mancanegara dan lokal. Foto: Ahmad Suudi

JATIMNET.COM, Surabaya – Pandemi Covid-19 turut dirasakan imbasnya bagi petani kopi. Pembatasan operasional kedai dan kafe akibat Covid-19 mengurangi permintaan atau penjualan biji kopi.

Ketua Asosiasi Petani Kopi Jawa Timur Bambang Sriyono mengatakan kondisi itu membuat harga di tingkat petani anjlok. "Penjualannya merosot dan berimbas sampai di tingkat petani," ujar Bambang, Rabu, 27 Mei 2020. 

Lesunya permintaan ini, kata dia, tidak hanya di dalam negeri, melainkan juga pasar mancanegara. Padahal panen raya kopi diprediksi akan terjadi Mei hingga Juni mendatang. 

BACA JUGA: Tantangan Kopi Jatim di Tengah Tingginya Permintaan Pasar Internasional

Bambang memperkiraan rata-rata hasil panen di tingkat petani per hektarnya sebanyak 500-1.000 kilogram biji kopi. Sementara total produksi selama satu tahun ini diprediksi naik 2-5 persen secara nasional mencapai 675.000 ton baik pada jenis robusta maupun arabika. 

Sedangkan produksi kopi di Jawa Timur tahun ini diprediksi bisa mencapai 61.998 ton terdiri dari robusta 82 persen dan arabika 18 persen. Namun, peningkatan produksi itu tidak sebanding dengan lesunya permintaan pasar. Harga justru anjlok di kisaran 30-40 persen. 

BACA JUGA: Geliat Petani Kopi Telemung Menaikkan Nilai Jual Kopinya

"Sebagai pembanding, pada bulan yang sama (Mei) buah kopi merah arabika tahun lalu di kisaran Rp7.000-9.000 per kilogram. Sekarang di kisaran Rp4.000-5.000 per-kilogram," kata Bambang. 

Untuk menyiasati lesunya penjualan, pihaknya mengungkapkan saat ini yang hanya bisa dilakukan petani adalah mencoba merambah ke pasar online. Kendati belum banyak, baru 15-20 persen, tetapi ini langkah yang dinilai paling tepat. 

"Terus terang masih mumet (bingung) cari terobosan jalan keluarnya. Saat ini petani hanya bisa berdoa agar situasi segera pulih dan pasar memihak ke petani. Yang pasti petani tetap pergi ke kebun kopinya, tidak mungkin kebun kopi dirawat atau dikerjakan dari rumah," ucapnya.

Baca Juga