
Reporter
Rochman AriefKamis, 15 Agustus 2019 - 07:24
Editor
Rochman AriefImpor bahan baku penolong menyebabkan tekanan pada neraca perdangan bulan Juli 2019 yang mencapai 11,27 miliar dolar AS. Foto: Dok.
JATIMNET.COM, Surabaya – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan RI pada Juli 2019 masih defisit. Berdasarkan catatan BPS, defisit perdagangan Indonesia mencapai 63,5 juta dolar AS.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, jumlah ekspor pada Juli 2019 mencapai 15,45 miliar dolar AS, atau turun 5,21 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Adapun nilai impor bulan Juli 2019 mencapai 15,51 miliar dolar AS atau turun 15,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” Suhariyanto mengatakan di kantor BPS Pusat, Jakarta, seperti dilansir Suara.com, Kamis 15 Agustus 2019.
BACA JUGA: Perhiasan Masih Perkasa, Kendati Perdagangan Jatim Defisit
Suhariyanto menuturkan, defisit ini berasal dari defisit migas sebesar 142,4 juta dolar AS, walaupun sektor non migasnya surplus 78,9 juta dolar AS.
Ekspor non migas yang mencapai 15,45 miliar dolar AS didominasi oleh industri yang mencapai 11,51 miliar dolar AS atau berkontribusi 74,52 persen. Kemudian pertambangan menyumbang 2,02 miliar dolar AS atau 13,06 persen dan migas sebesar 1,61 miliar dolar AS atau 10,39 persen.
BACA JUGA: Ekspor Kayu Layu, Neraca Perdagangan Lesu
Adapun impor masih didominasi bahan baku penolong dan barang modal, yang masing-masing sebesar 11,27 miliar dolar AS dan 2,78 miliar dolar AS.
Dia menambahkan, secara kumulatif dari Januari-Juli 2019 neraca perdagangan masih defisit sebesar 1,90 milar dolar AS
“Januari-Juli masih defisit sekitar 1,90 miliar dolar, tetapi kita bandingkan defisit 2018, defisit ini relatif masih kecil,” tutur dia.