Ahmad Suudi

Reporter

Ahmad Suudi

Jumat, 11 Oktober 2019 - 10:31

IRINGAN gandrung dari kanan dan kiri bertemu di tengah, membentuk barisan dan bergerak maju ke arah penonton. Puspita dan Elsya, siswi SMA Negeri 1 Purwoharjo, bersama penari lainnya bekerjasama dalam setiap gerakan.

Setiap penari mengenakan selendang (sampur) berwarna merah dan memegang kipas di tangan kanannya, sedangkan tangan kiri menjepit ujung kipas rekan di samping kiri agar tersambung. Sambil duduk, kawanan gandrung menaik-turunkan kipas hingga tampak seperti gelombang putih bersap-sap dalam belasan barisan.

Gerakan mereka mengikuti instruksi pelatih melalui pengeras suara, musik dimainkan dan pemeran pasukan maju sembari mengangkat properti kipas berekor panjang. Di area belakang, gandrung datang dari arah kanan dan kiri, yang menjadi cara gandrung masuk ke arena.

Kisah kematian Mas Alit, Bupati Banyuwangi yang dilantik VOC, yang menyuguhkan suka, duka, dan kengerian perang di laut utara Gresik tahun 1782 itu pun dimulai.

BACA JUGA: Melihat Anak-anak Menari Gandrung di Tepi Sawah

Puspita dan Elsya bersama 1.354 remaja Banyuwangi ini sedang berlatih di Stadion Diponegoro, Banyuwangi, Selasa 8 Oktober 2019 malam. Mereka akan tampil dalam gelaran Festival Gandrung Sewu 2019 di Pantai Boom.

SEMANGAT. Para pelajar bersemangat dalam latihan Tari Gandrung yang akan ditampilkan dalam Festival Gandrung Sewu 2019. Foto: AHmad Suudi

Pelajar-pelajar ini sebelumnya diseleksi sejak Juli 2019 di tingkat kecamatan. Para siswa yang terpilih dari sekolah di berbagai kecamatan di Banyuwangi ini akan menjadi pementas besar Gandrung Sewu.

Sutradara dan Koreografer Gandrung Sewu 2019 Dwi Agus Cahyono menjelaskan mereka dibagi dalam 13 grup dari A sampai M. Fungsinya mempermudah pengaturan formasi dan penanganan kesenjangan kemampuan penari yang tidak semuanya sama.

BACA JUGA: Sesepuh Gandrung Reuni, Sebut Generasi Sekarang Gandrung-gandrungan

"Kami berusaha memunculkan emosi penari dengan menceritakan bagaimana orang-orang Belambangan membawa Panji Sunangkara dalam melawan penjajah," kata Dwi di Banyuwangi, Kamis 10 Oktober 2019.

Panji-panji Sunangkara merupakan tema Gandrung Sewu 2019 yang merupakan lambang pasukan Rempeg Jagapati dalam Perang Puputan Bayu. Panji bergambar kepala serigala melolong itu untuk menakut-nakuti pasukan VOC, musuh mereka dalam perang di Tegal Perangan, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, tahun 1771.

Cerita Panji-panji Sunangkara akan dibawakan sekawanan penari dan 65 pemeran pasukan perang, diiringi 75 orang panjak atau pemain musik tradisional. Dwi menjelaskan, drama sesuai tema diatur dalam 30 persen waktu, dan 70 persen waktu lainnya digunakan untuk menampilkan tariannya.

"Pertunjukan gandrung klasik yang kami tampilkan dalam Festival Gandrung Sewu 2019," ujar Dwi.

BACA JUGA: Geliat Petani Kopi Telemung Menaikkan Nilai Jual Kopinya 

Salah satu peserta Gandrung Sewu, Lusi Sari Hermawati (16) mengatakan, kekompakan tim saat latihan selama ini sangat penting. Pasalnya gerakan satu orang dan lainnya harus saling bersesuaian agar serasi dalam pertunjukan kolosal.

Bahkan diceritakannya dalam sebuah kesempatan terjadi pertengkaran antar penari karena salah satu telat datang hingga tak tahu perkembangan latihan. Kesesuaian dengan penari lain serta ketukan musik menjadi kunci bagi mereka, mengingat perubahan gerakan atau formasi.

Sutradara dan Koreografer Gandrung Sewu 2019 Dwi Agus Cahyono Foto: Ahmad Suudi

"Kesulitannya kalau nggak kuat gampang capek. Hafalan gerakan kalau bersama-sama nggak susah, posisinya bisa tahu" kata siswi SMK Negeri 1 Banyuwangi ini.

Puspita, siswi kelas 10 SMA Negeri 1 Purwoharjo mengaku akan lebih sulit tampil di Pantai Boom, karena harus bertumpu pada pasir.

BACA JUGA: Menengok Kemeriahan Prosesi Pernikahan ala Adat Using

"Untuk mengingat gerakan nyocokkan (menyesuaikan) dengan musik," katanya bersemangat.

Lebih dari 1.300 penari akan menampilkan 45 menit Panji-panji Sunangkara di Pantai Boom Banyuwangi, Sabtu 12 Oktober 2019. Selat dan Pulau Bali akan menjadi latar belakang penari-penari itu melempar sampur atau mengibas kipas merah dan putih ke udara pantai.

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko yang beberapa kali memantau proses latihan mengatakan tahun ini lebih menantang bagi para pelatih. Sebab, 50 persen adalah peserta baru yang belum pernah mengikuti pertunjukan pada tahun sebelumnya.

"Mereka dari seluruh Kabupaten Banyuwangi untuk berlatih bersama-sama. Dengan kegiatan seperti ini harapannya mereka tidak terbawa arus (ke arah negatif)," kata Yusuf.

Baca Juga

loading...