
Reporter
Restu C WidariJumat, 30 April 2021 - 13:40
Editor
Ishomuddin
FILTER MASKER. Desain masker kain dengan penambahan lembaran karbon aktif berbahan tempurung siwalan sebagai filter masker kain. Dok: Humas ITS
JATIMNET.COM, Surabaya – Masker merupakan salah satu barang yang wajib dikenakan di masa pandemi, terutama jika ingin beraktivitas di luar rumah dan bertemu banyak orang. Tak ayal, limbah masker medis sekali pakai turut mengalami kenaikan.
Parahnya, peningkatan limbah masker di masa pandemi rupanya tidak hanya berdampak bagi lingkungan, namun juga berpotensi menularkan virus ke masyarakat sekitar.
Mengatasi hal tersebut, mahasiswa ITS, Eunike Rhiza Febriana Setyadi, melalui esainya menggagas masker kain yang lapisan tengahnya diberi filter khusus berbahan dasar limbah tempurung siwalan.
“Limbah masker medis sulit terurai dan membutuhkan sumber daya yang cukup besar dalam pengelolaannya,” kata wanita yang akrab disapa Ike ini Eunike dikutip dari its.ac.id, Kamis, 29 April 2021.
BACA JUGA: Kemenristek Dukung Pengembangan dan Pembuatan i-nose c-19
Melalui esai bertajuk “Potensi Active Carbon Sheet Mask Ramah Lingkungan dari Limbah Tempurung Siwalan guna Mengurangi Penyebaran Covid-19 di Indonesia”, ike menggagas ide masker kain yang lapisan tengahnya diberi filter khusus berupa lembaran karbon aktif.
“Lapisan karbon aktif dapat memaksimalkan efektivitas penyaringan kotoran terutama virus,” ia menerangkan.
Lebih lanjut, mahasiswa asal Tuban ini menjelaskan bahwa karbon aktif bisa diperoleh dari kandungan selulosa yang sangat tinggi pada tempurung siwalan yaitu sebesar 89,2 persen. Buah ini juga mudah ditemukan, khususnya di Kabupaten Tuban.
“Selain harganya terjangkau, pemanfaatan buah siwalan juga dapat membantu perekonomian warga,” ia menjelaskan.
Tempurung siwalan yang sudah menjadi karbon aktif kemudian dibentuk menjadi lembaran tipis. Maka, karbon aktif pun perlu ditambahkan bubuk kitosan yang sudah dilarutkan dalam asam asetat.
Hasil pencampuran keduanya akan menghasilkan lembaran karbon aktif dengan ukuran pori-pori sebesar 3,702 nanometer. Ukuran pori ini efektif menyaring berbagai macam debu, udara beracun, bakteri, virus yang berukuran sekitar 125 nanometer, bahkan Corona virus yang ada saat ini.
BACA JUGA: Tingkatkan Kualitas Pendidikan Melalui Start-up Millennial
“Filter karbon aktif ini dapat digunakan sebagai filter masker kain dalam waktu 4-7 hari pemakaian,” katanya.
Gagasan yang cukup inovatif ini telah berhasil meraih juara 2 dalam perlombaan esai nasional Forum Komunikasi Mahasiswa Politeknik Indonesia (FKMPI) Lampung, beberapa waktu lalu. Ike mengungkapkan bahwa kurangnya penelitian terkait proses pengubahan karbon aktif menjadi lembaran tipis adalah kendala utama. “Hingga saat ini saya belum dapat menemukan penelitian mengenai hal tersebut,” ujarnya.
Ike berharap esai yang digagasnya tersebut dapat diteliti lebih lanjut, terutama dalam menguji langsung keefektifan masker ini. “Harapannya ide ini nantinya dapat ditindak lanjuti dan diimplementasikan di masyarakat umum,” katanya.