JATIMNET.COM - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama Konsorsium Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) dan Yayasan Penabulu menggelar sosialisasi peluncuran Gerakan Akademi Komunitas Berbasis Pesantren. Sosialisasi digelar bersama dengan pameran industri dengan tema "Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Dan Mewujudkan Bela Negara Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0".

Menurut Ketua Tim Percepatan dan Pendampingan Pembentukan Akademi Komunitas Berbasis Pesantren kerjasama LPTNU-Penabulu, Agus Jui Purmawan, kegiatan tersebut untuk mensosialisasikan bentuk dan persyaratan pendirian pendidikan tinggi akademi komunitas yang dikelola oleh kelompok masyarakat (swasta). Kemudian meningkatkan komunikasi antara Industri dan Pesantren yang akan mendirikan akademi komunitas melalui pameran industri; membangun kesepahaman bersama antara perguruan tinggi negeri, industri, dan pesantren yang akan mendirikan akademi komunitas.

"Tujuan berikutnya untuk mensosialisasikan nilai-nilai dasar bela negara kepada masyarakat umum: sosialisasi dan diseminasi pembangunan kesadaran bela negara di kalangan perempuan, pemuda, pelajar, dan mahasiswa, internalisasi nilai-nilai dasar bela negara pada lembaga pendidikan formal, nonformal, dan informal, implementasi bela negara melalui kearifan dan keunggulan lokal yang berdasarkan asta gatra. Lalu mensosialisasikan upaya bela negara melalui kerja sama akademi komunitas dengan dunia industri sebagai sarana pengembangan sumber daya manusia," kata Agus, Rabu 05 Desember 2018.

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan pemerintah provinsi, pelaku industri, perguruan tinggi, serta 99 pesantren dari seluruh kabupaten di Jawa Tengah. Berikutnya dilakukan penandatanganan kesepahaman bersama antara LPTNU dengan 7 perwakilan industri dan 7 perwakilan perguruan tinggi untuk mendukung Gerakan Akademi Komunitas Berbasis Pesantren. Harapannya, sosialisasi ini mampu mendorong pendirian akademi komunitas oleh pesantren untuk mendorong terwujudnya upaya bela negara, khususnya santri dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yang selaras dengan UUD.

Agus menjelaskan, akademi komunitas berbasis pesantren ini merupakan tindak lanjut dari program pemerintah "Making Indonesia 4.0" dalam acara Indonesia Industrial Summit (IIS) 2018 untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Inisiatif “Making Indonesia 4.0” diharapkan akan memberikan potensi besar untuk melipatgandakan produktivitas tenaga kerja, sehingga dapat meningkatkan daya saing global, meningkatkan kemandirian dan ketahanan bangsa, dan mengangkat pangsa pasar ekspor ke pasar global.

Negara Indonesia memiliki belasan ribu pulau dan aneka ragam suku bangsa serta variasi kondisi alam. Kondisi tersebut menjadi pemicu terbentuknya berbagai kelompok atau komunitas dengan ciri dan karakteristik yang beraneka ragam. Keberadaan berbagai kelompok atau komunitas yang beraneka ragam tersebut ditambah keanekaragaman sumber daya alam merupakan modal yang sangat besar dalam meningkatkan daya saing bangsa Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Namun hal itu membutuhkan peningkatan kemampuan sumber daya manusia, kemampuan pengembangan teknologi, dan kemampuan berinovasi dalam menghasilkan berbagai jenis produk maupun jasa berdasarkan keunggulan lokal masing-masing daerah.

Pendidikan tinggi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi merupakan bagian tak terpisahkan dari Sistem pendidikan nasional memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan tersebut di atas. Melalui pendidikan tinggi, lebih khusus adalah pendidikan berbasis keterampilan menjadi faktor yang cukup penting untuk dikembangkan untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara lebih cepat. Pendidikan yang lebih berorientasi keterampilan atau vokasi dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. 

Peran pendidikan yang lebih berorientasi keterampilan atau vokasi lebih strategis dalam mendorong terjadinya optimalisasi pendayagunaan potensi sumber daya yang berbeda-beda di setiap daerah. Melalui pendidikan tinggi vokasi diharapkan akan dihasilkan masyarakat (intelektual, ilmuwan, profesional, dan inovator) yang berbudaya dan kreatif, toleran, demokratis, berkarakter tangguh, serta berani membela kepentingan bangsa.

Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, mengatur bahwa Akademi Komunitas (AK) adalah bentuk perguruan tinggi selain dari bentuk perguruan tinggi yang sudah ada yaitu: universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, dan akademi. Akademi Komunitas merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan jenis pendidikan vokasi program Diploma Satu (D-I) dan/atau Diploma Dua (D-II) dalam satu atau beberapa cabang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi tertentu yang berbasis keunggulan lokal atau untuk memenuhi kebutuhan khusus.

Pendidikan pesantren adalah pendidikan tertua di Indonesia, hingga saat ini model pendidikan pesantren masih bertahan di tengah-tengah modernisasi pendidikan di luar pesantren itu sendiri. Pesantren sesungguhnya terbangun dari konstruksi kemasyarakatan dan kondisi sosial yang menciptakan suatu gerakan atas perjalanan sosial yang dialaminya. Pesantren merupakan salah satu pemicu terwujudnya perubahan sosial. Kondisi ini terjadi karena pesantren hadir terbuka dengan semangat kesederhanaan, kekeluargaan, dan kepedulian sosial. Konsepsi perilaku yang ditampilkan pesantren ini mempunyai daya rekat sosial yang tinggi dan sulit ditemukan pada institusi pendidikan lainnya. 

Pesantren dengan semua potensinya yang sudah teruji selama ratusan tahun jika dikerjasamakan dengan pendidikan tinggi dan industri yang memiliki potensi pengembangan teknologi, pengetahuan, dan inovasi, maka dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat yang kuat dan cepat menuju tercapainya Making Indonesia 4.0” dan mendorong ketahanan nasional melalui sektor industri berbasis keunggulan lokal.