
Reporter
Ahmad SuudiKamis, 25 Juli 2019 - 15:55
Editor
Hari Santoso
BUKA ACARA: Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas membuka acara Banyuwangi Coffee Processing Festival, Kamis 25 Juli 2019. Foto: Ahmad Suudi.
JATIMNET.COM, Banyuwangi - Dalam acara Banyuwangi Coffee Processing Festival kali ini, peserta mendapatkan paparan pentingnya kemasan kopi. Selain masalah keawetan, kemasan juga harus mendukung penjualan produk kopi tersebut.
Ahli Uji Citarasa Kopi, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Indonesia, Yusianto Jamar, menyampaikan kemasan harus mampu melindungi kualitas kopi. Bahan yang dinilai paling bagus selama ini adalah alumunium foil.
"Agar isolasi dari kemungkinan kontaminasi bisa maksimal, dalam kemasan biasanya terdapat lapisan almunium foil. Agar barang kita bisa tahan jangka panjang," kata Yusianto, dalam acara yang digelar di Rumah Kreatif Dinas Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Banyuwangi, Kamis 25 Juli 2019.
Tren untuk menjaga lingkungan, dalam kemasan kopi, kini diaplikasikan dengan memberikan lapisan kertas di luar. Kemasan yang bagus dapat mengisolasi kopi dari bakteri, pencemaran lingkungan, peningkatan kadar air dan melindungi aroma serta cita rasa.
BACA JUGA: Manten Kopi, Ritual Panen Raya Kopi di Lereng Kelud
Dia menganalogikan kemasan kopi sebagai pakaian bagi manusia yang berfungsi melindungi sekaligus memperindah tampilan. Tampilan yang indah menambah ketertarikan masyarakat, dan kopi akan semakin laris.
"Pengemasan itu kunci pokok, seperti badan dan baju. Karena baju, harus menarik, desain, warna, dan hiasan harus pas," kata Yusianto lagi.
Dia menjelaskan konsumen kopi di Indonesia terbagi dalam dua kategori, yakni umum dan khusus. Penikmat kopi khusus memperhatikan detail varietas, kadar air, ketinggian, curah hujan, jenis pemrosesan dan lain sebagainya.
Jumlah konsumen kopi khusus masih kurang dari 10 persen, dan sisanya merupakan penikmat kopi biasa yang terpengaruhi daya tarik kopi kemasan. Dia juga memberikan saran bagaimana membuat membuat merek dan slogan yang memikat seperti, Bisa Melek Semaleman, atau Mantul (Mantap Betul).
BACA JUGA: Kopi Indonesia Mendapat Perhatian dalam World Coffee di Jerman
"Tapi varietas kopi juga penting dan perlu disertakan, agar orang tahu," ujarnya.
Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, usaha dan industri berbasis kopi tumbuh pesat di Banyuwangi beberapa tahun terakhir. Pihaknya berupaya hadir untuk mendorong para pelaku usaha berbasis kopi naik kelas agar daya saingnya meningkat.
“Jumlah UMKM kopi di Banyuwangi terus tumbuh. Pada 2013 jumlahnya tidak sampai 10, namun sekarang sudah mencapai lebih dari 40 UMKM. Kafe yang menyajikan kopi juga mulai menjamur di penjuru kabupaten. Untuk itu kami juga mengajak puluhan pelajar di pelatihan ini, upaya untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur di kalangan mereka mengingat potensi bisnis kopi yang trennya positif,” kata Anas.