Pilot Air China Dihukum Lantaran Merokok di Kabin

Rochman Arief
Rochman Arief

Selasa, 29 Januari 2019 - 12:12

JATIMNET.COM, Beijing – Administrasi Penerbangan Sipil Cina atau Civil Aviation Administration of China (CAAC) menghukum seorang pilot yang diketahui merokok saat pesawat mengudara.

Hukuman itu dijatuhkan berdasarkan peraturan yang dikeluarkan Beijing tahun Oktober 2017 tentang larangan merokok. Larangan itu diberlakukan bagi seluruh penerbangan domestik selama mengudara. Sedangkan penerbangan internasional sudah berjalan selama 20 tahun.

Laporan dari China Daily melalui Dailymail, Senin 28 Januari 2019 menyebutkan kru yang merokok selama penerbangan bisa dikenakan sanksi penangguhan 36 bulan atau tiga tahun.

Larangan itu jatuh hanya beberapa bulan setelah pesawat Air China jatuh dari ketinggian 25.000 kaki. Itu merupakan penurunan darurat setelah co-pilot keliru mematikan sistem pendingin udara dalam upaya menyembunyikan asap rokok elektroniknya.

BACA JUGA: Qantas Buka Rute Penerbangan Terpanjang Di Dunia

Insiden itu mengakibatkan penyebaran masker oksigen penumpang pada Juli 2018. Pesawat tersebut dilaporkan dalam sebuah penerbangan dari Hong Kong menuju Dalian di Timur Laut Cina.

“CAAC melansir dalam konferensi pers di Beijing bahwa drama itu dipicu ketika co-pilot berusaha mematikan sistem ventilasi untuk mencegah asapnya menyebar ke kabin utama,” tulis Caixinglobal.

Sebetulnya co-pilot tidak sengaja mematikan AC yang menyebabkan penurunan kadar oksigen kabin.

Itu memicu sistem peringatan darurat yang mengindikasikan bahwa jet 737 diduga terbang terlalu tinggi dan memerintahkan pilot untuk turun dengan cepat.

Laporan media Cina mengutip penumpang dan situs pelacak penerbangan mengatakan bahwa pesawat itu mungkin telah turun hingga beberapa ribu meter.

BACA JUGA: Air Astana Terbang Dengan Macan Tutul Salju

CAAC mengatakan pesawat jatuh hingga ke ketinggian 3.000 meter (10.000 kaki), tanpa menentukan ketinggian yang sesuai. FlightRadar24 mencatat pesawat tersebut seperti mengikuti praktik standart dekompresi (pengurangan atau peniadaan tekanan) lantaran turun dari dari ketinggian 35.000 kaki menuju 10.000 kaki dalam tempo 10 menit.

Selanjutnya pesawat naik dan melanjutkan penerbangan hingga ketinggian 26.600 kaki, atau tidak mendarat di bandara terdekat.

Sejumlah pakar industri penerbangan menilai keputusan naik dan melanjutkan penerbangan merupakan tindakan tidak biasa, mengingat masker oksigen sudah dikerahkan.

Berdasarkan video dari atas penerbangan yang kemudian diposting di media sosial menunjukkan masker oksigen menggantung dari langit-langit di seluruh kabin dan tidak ada tanda-tanda panik.

Baca Juga

loading...