PVMBG Ragu Tsunami di Selat Sunda Karena Anak Krakatau

Hari Istiawan

Reporter

Hari Istiawan

Minggu, 23 undefined 2018 - 13:15

JATIMNET.COM, Surabaya – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih ragu gelombang tsunami di Selat Sunda Sabtu 22 Desember 2018 malam disebabkan akrena aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Mengutip rilis di situs resmi PVMBG, aktivitas Anak Krakatau tanggal 22 Desember 2018 seperti hari-hari sebelumnya, terjadi letusan. Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 -  1500 meter di atas puncak kawah. Secara kegempaan, terekam gempa tremor menerus dengan amplitudo overscale (58 mm). Pada pukul  21.03 WIB terjadi letusan, selang beberapa lama ada info tsunami.

Terkait apakah apakah tsunami tersebut ada kaitannya dengan aktivitas letusan, hal ini masih didalami, karena ada beberapa alasan untuk bisa menimbulkan tsunami.

BACA JUGA: Penjelasan Ahli Soal Tsunami di Selat Sunda

PVMBG menjelaskan, rekaman getaran tremor tertinggi yang selama ini terjadi sejak bulan Juni 2018 tidak menimbulkan gelombang terhadap air laut bahkan hingga tsunami.

Lalu, material lontaran saat letusan yang jatuh di sekitar tubuh gunung api masih bersifat lepas dan sudah turun saat letusan ketika itu.

Untuk menimbulkan tsunami sebesar itu perlu ada runtuhan cukup besar yang masuk ke dalam kolom air laut. Dan untuk merontokkan bagian tubuh yg longsor ke bagian laut diperlukan energi yg cukup besar, ini tidak terdeteksi oleh seismograph di pos pengamatan gunung api.

Sehingga untuk menyimpulkan ada keterkaitan antara tsunami dan letusan Anak Krakatau masih perlu data-data untuk dikorelasikan.

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukkan hampir seluruh tubuh Gunung Anak Krakatau yang berdiameter ± 2 kilomter merupakan kawasan rawan bencana. Berdasarkan data-data visual dan instrumental potensi bahaya dari aktivitas Anak Krakatau saat ini adalah lontaran material pijar dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Sedangkan sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin.

BACA JUGA: BMKG Ingatkan Gelombang Tinggi hingga 25 Desember

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 23 Desember 2018, tingkat aktivitas Anak Krakatau masih tetap Level II  (Waspada).

Sehubungan dengan status Level II (Waspada) tersebut, direkomendasikan kepada masyarakat tidak diperbolehkan mendekati Krakatau dalam radius 2 kilometer dari kawah.

Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.

Untuk diketahui, Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda adalah gunung api strato tipe A dan merupakan gunung api muda yang muncul dalam kaldera, pasca erupsi paroksimal tahun 1883 dari kompleks vulkanik Krakatau.

Aktivitas erupsi pasca pembentukan dimulai sejak tahun 1927, pada saat tubuh gunung api masih di bawah permukaan laut. Tubuh Anak Krakatau muncul ke permukaan laut sejak tahun 2013. Sejak saat itu dan hingga kini Anak Krakatau berada dalam fasa konstruksi (membangun tubuhnya hingga besar). Saat ini Anak Krakatau mempunyai elevasi tertinggi 338 meter dari muka laut (pengukuran September 2018).

Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi ekplosif lemah (strombolian) dan erupsi epusif berupa aliran lava. Pada tahun2016 letusan terjadi pada 20 Juni 2016, sedangkan pada tahun 2017 letusan terjadi pada tanggal 19 Februari 2017 berupa letusan strombolian.

Tahun 2018, kembali meletus sejak tanggal 29 Juni 2018 sampai saat ini berupa letusan strombolian. Letusan pada tahun 2018, precursor letusan 2018 diawali dengan munculnya gempa tremor dan penigkatan jumlah gempa hembusan dan frekuensi rendah pada tanggal 18-19 Juni 2018.

Jumlah Gempa Hembusan terus meningkat dan akhirnya pada tanggal 29 Juni 2018 Anak Krakatau meletus. Lontaran material letusan sebagian besar jatuh di sekitar tubuh Anak Krakatau atau kurang dari 1 kilometer dari kawah, tetapi sejak tanggal 23 Juli teramati lontaran material pijar yang jatuh di sekitar pantai, sehingga radius bahaya Krakatau diperluas dari 1 kilometer menjadi 2 kilometer dari kawah.

Baca Juga

loading...