Dyah Ayu Pitaloka

Sabtu, 22 undefined 2018 - 07:06

JALAN Raya Gubeng, tepatnya di depan kantor BNI, mendadak ambles sedalam 20 meter pada Selasa 18 Desember 2018 malam. Lubang selebar 20 meter dengan panjang 100 meter itu membuat jalan tak berfungsi.

Dugaan kuat penyebab peristiwa itu adalah kesalahan konstruksi proyek pembangunan basement Rumah Sakit Siloam yang dikerjaan PT Nusa Konstruksi Enjiniring. Hingga kini polisi terus menelisik unsur kesengajaan dan kelalaian dalam kejadian itu.

Adalah Amien Widodo seorang pakar geologi dan kegempaan asal Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Ia satu di antara anggota tim mitigasi “Jalan Raya Gubeng”. Diketuai oleh Indrasurya B.Mochtar, tim itu juga berisi orang-orang pemerintahan, selain akademisi.  Mereka bertugas menyusun rencana pengurangan dampak dan pencegahan agar kasus serupa tak terulang.

Jumat 21 Desember 2018, jurnalis Jatimnet.com Dyah Ayu Pitaloka dan David Priyasidharta mewawancarai Amien di ruang kerjanya, Ruang Teknik Lingkungan Departemen Geofisika ITS Surabaya. Di sana terpampang potret Jalan Raya Gubeng yang ambles. “Ini longsor, bukan ambles,” katanya menunjuk gambar yang diambil dari ketinggian itu.

Longor dan ambles berbeda, kata dia. Longsor itu tanahnya bergerak, ambles itu tanah turun ke bawah. Amblesan tanah alias sinkhole biasa terjadi karena faktor alam. “Padahal tidak, itu longsor dan kontraktornya sudah mengakui itu,” kata lelaki kelahiran Yogyakarta berusia 59 tahun ini.

Dalam pemberitaan media, PT NKE dilaporkan bersedia menanggung 100 persen biaya perbaikan jalan dan mengganti uang Pemerintah Kota Surabaya. Rp 10 miliar telah disediakan perusahaan, kalau pun kurang akan ditambahi. “Kalau dia ngaku salah, ya mestinya salah. Cuma salahnya di mana kan dia yang tahu,” katanya.

Berikut petikannya.

Amien Widodo menjelaskan coretan perkiraan mengapa longsor terjadi di Jalan Raya Gubeng Jumat 21 Desember. Foto: Dyah Ayu Pitaloka.

Sehari setelah peristiwa terjadi, Anda pergi ke lokasi. Apa yang Anda dapati?

Peristiwanya kan malam, kami ke sana besoknya. Sudah tidak boleh masuk karena antisipasi. Kami lakukan survei dari drone saja. Dari situ kelihatan ini longsor, bukan ambles. Kalau ambles itu istilahnya sinkhole.

Apa bedanya longsor dan ambles?

Longsor itu tanahnya bergerak. Kami lihat dari drone ini tanahnya bergerak ke barat sekitar 70 meter. (Ia menunjuk hasil jepretan kamera drone yang menggambarkan pagar dan rambu larangan parkir di depan kantor BNI bergeser ke barat) Kalau ambles tanah turun ke bawah. Berarti di situ ada gua misalnya. Atau ada terowongan kereta api lama atau bekas tambang. Nah itu bisa sinkhole. Semua material jatuh ke bawah tidak kelihatan di permukaan, langsung hilang. Ini (di Gubeng) materialnya kelihatan bergeser ke barat. Isu begitu (sinkhole) kan tujuannya bencana alam. Padahal kan tidak, itu longsor dan kontraktornya sudah mengakui itu.

Kondisi sekitar lokasi seperti apa?

Belum ada penelitian sejauh itu. Harus ada penelitian dulu

Anda di tim apa?

Ada tim mitigasi kelongsoran Jalan Raya Gubeng Surabaya. Anggotanya ada banyak. Dari ITS ada tiga; saya, Prof. Probo (Priyo Suprobo) dan Pak Indra (Prof. Indrasurya B. Mochtar). Pak Indra ketua timnya. Yang lainnya ada dari Pemkot Surabaya dan yang lainnya. (Di dalam tim terlibat pula Bina Marga, Balitbang, Cipta Karya, BBWS Brantas, serta akademisi Universitas Brawijaya dan Universitas Petra)

Apa tugasnya?

Tujuannya mengurangi dampak dan mencegah agar tidak terulang.

Ada yang menyebut tanah Surabaya terbentuk dari endapan sungai Brantas.

Kami menyebut Surabaya disusun oleh tiga endapan; endapan kali Brantas, pantai, dan rawa. Endapan kali Brantas sebagian besar pasir dan lempung. Pasir itu endapan baik. Kalau lempung mudah jugruk. (Endapan kali Brantas) letaknya ya di pinggir kali Brantas. Kalau di Gubeng sana lebih banyak pasir.

Kalau mau dibangun gedung tinggi di atas tanah itu, apa konsekuensinya?

Ada SOP (Standar Operasional Prosedur). Semua (proyek pembangunan) gedung tinggi harus melakukan pengeboran sampel tanah. Apakah tanah endapan atau tanah keras. Untuk melihat kekuatan tanah pakai standart penetration test. Ini yang sering dipakai. Pencarian endapan dan tanah keras ini untuk bikin tiang pancang atau fondasinya. Sejauh apa pun harus sampai tanah keras, baru aman. (Misalnya) ngebor sampai 30 meter (ketemu tanah keras) fondasinya ditancapkan di situ. 

Kalau sesar Waru dan Surabaya itu apa?

Sesar itu patahan. Ada tiga; patahan atas, turun, dan geser. Akhir tahun 2017 Kementerian PUPR merilis Surabaya dilewati sesar Surabaya dan Waru. (Jalur) dilewati di Mayjen Sungkono dan Margomulyo, (dataran) agak tinggi di Margomulyo. Perbatasan antara dataran datar dan tinggi itu yang disebut sesar Surabaya. Kalau sesar Waru itu (membentang) dari Karang Pilang sampai Cepu.

Apa dampaknya bagi Surabaya?

Itu potensi gempa di Surabaya. Pemerintah semestinya melakukan penilaian terhadap tanah dan bangunan di Surabaya. Karena gempa tadi bisa mengenai tanah dan bangunan. Kalau tanah jelek, bangunan jelek ya bisa rubuh. Kalau tanah baik, fondasi baik ya bukan masalah. Walau pun dilewati sesar tetap bisa dibangun asalkan tanah dan bangunan bagus. (Rilis) ini kan baru saja tahun 2017. Sekarang kami masih memasukkan dalam Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan). Kami mengharapkan ini (penelitian) mulai dibikin tahun 2019. Kalau sudah diketahui, bangunan berikutnya izin pembangunannya mengikuti standar bangunan gempa.

Kalau penurunan permukaan tanah di Surabaya bagaimana?

Baru dimulai. Belum bisa menyampaikan kesimpulan. Masih memasang puluhan patok di beberapa tempat di Surabaya. Untuk mengukur pergerakan tanah, naik atau turun. Diukur minimal tiga tahun, sekarang baru dua tahun. Kesimpulannya baru bisa diambil tahun depan. Ada tanah yang cenderung naik, ada juga yang turun, ada juga yang naik- turun.

Apa dampaknya dengan kondisi tanah seperti itu?

Kalau naik atau turun kan berbahaya pada bangunan. Kalau naiknya lokal didorong ya miring, kan longsor. Kalau turun bahayanya lebih banyak. Tanahnya ngantong, potensi banjir juga.

Amien Widodo menunjukkan longsoran dari foto drone pada 19 Desember 2018 di atas Jalan Raya Gubeng Jumat 21 Desember. Foto: Dyah Ayu Pitaloka.

Kembali ke kasus Jalan Gubeng, apa kira-kira penyebabnya?

Kalau gempa kan tidak. Tidak ada rekaman kegempaan dari BMKG. Jadi ya penyebabnya longsor karena tembok penahannya tidak kuat dan sudah diakui oleh NKE itu. Kan begini, tadinya tanah datar. Kalau miring kan ada galian hingga posisinya kritis karena galian. Untuk mengantisipasi (seharusnya) itu dibuat tembok penahan. Memang SOP-nya begitu. Tembok penahan ini mestinya kurang kuat karena ada bocor (air) dan terjadi longsor. Terdorong air tadi.

Air bocor?

Dilihat dari kronologisnya, beberapa hari sebelumnya keluar air. Berarti kan di sini ada tekanan air besar merembes di antara fondasi tembok penahan. Akhirnya menjadi tekanan yang mendorong tanah (longsor). Kalau dia (kontraktor) ngaku salah, ya mestinya salah. Cuma salahnya di mana kan dia yang tahu. Yang menyebabkan (tembok penahan) kurang kuat itu apa. Apakah campurannya yang salah? Nanti dia akan ngomong sama orang teknis, salahnya di sini lho. (Itu) untuk lesson learning selanjutnya agar jangan melakukan hal yang sama. Tim Task Force ITS menyimpulkan longsor di Jalan Raya Gubeng bersifat lokal. Tidak ada hubungannya dengan kejadian alam luar biasa dan fenomena sinkhole maupun gempa.

Kenapa yang longsor cuma di depan BNI?

Ini jalannya gruwung (berongga). Nyeret ke barat. Mungkin di sisi lain (tembok penahannya) kuat. Anggap saja itu lebih kuat tapi kami nggak tahu. Yang jelas ini kan ada air. Air ini mendorong tanah jadi longsor. Temboknya bocor jadi longsor. Di sisi yang lain ada tembok penahannya, tapi nggak longsor. Juga pada waktu itu ada proses dewatering. Itu kan hujan terus. Airnya ngrembes terus disedot. Dibuang ke mana? Dibuang ke got di bawah jalan itu. Berarti kan airnya mbulet di situ saja.

Ada temuan retakan di gedung BPJS. Itu bagaimana?

Ini yang kami nggak tahu. Kemarin nggak kepikiran. Setelah pengakuan (kontraktor) di DPRD kan berbahaya kalau sampai retak. Mungkin harus dilihat (kembali).

Penanganan seperti apa yang mendesak dilakukan untuk mengembalikan fungsi Jalan Gubeng saat ini?

Rekomendasi tim Task Force ITS adalah merencanakan konstruksi sementara agar jalan berfungsi dan mengamankan bangunan-bangunan di sekitar galian. Radius sekitar 20 meter dari tepi daerah galian dan longsoran merupakan daerah berbahaya sampai ada kesimpulan penelitian lebih lanjut. Daerah itu disarankan diberi Police Line.

Sudah dijalankan oleh pemerintah atau kontraktor?

Mana saya tahu, kan kami sekadar usul.

Baca Juga

loading...