JATIMNET.COM, Surabaya - Tahun 2018 masuk dalam peringkat empat teratas tahun terpanas sepanjang sejarah. Catatan ini merujuk pada laporan NASA dan National  Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA). Arktika menjadi daerah dengan peningkatan suhu paling cepat.

Laporan yang dirilis 6 Februari 2019 menyebutkan suhu di tahun 2018 sangat panas. Suhu permukaan daratan dan lautan rata-rata naik 0,79 derajat celcius dibandingkan suhu rata-rata abad 20, kata www.livescience.com, dikutip Kamis 7 Februari 2019. 

Data yang dimiliki NOAA tergolong cukup akurat. Sebab NOAA mulai mencatat suhu permukaan daratan dan lautan sejak 1880. Dalam catatannya diketahui suhu paling tinggi terjadi tahun 2016 yang sebagian besar disebabkan oleh El Nino. Selanjutnya tahun 2015 dan tahun 2017. Tahun 2018, peningkatan suhu masih terjadi.

"Ini artinya bumi menghangat. Dan pemahaman kita tentang mengapa tren itu terjadi juga sangat kuat yaitu karena gas rumah kaca yang (sudah) kita masukkan ke atmosfer selama 100 tahun terakhir," kata Gavin Schmidt, Direktur Institut Studi Antariksa Goddard NASA.  

BACA JUGA: Aktivis Lingkungan Dukung UU Pencucian Uang Perangi Perdagangan Satwa

Tren bumi yang menghangat dideteksi sejak 2005. Tahun itu sembilan dari 10 musim dingin terasa lebih hangat. Dan sejak 2014, suhu bumi lebih hangat.  

Kepala Bagian Pemantauan di NOAA Pusat Nasional untuk Informasi Lingkungan di Asheville, North Carolina mengatakan  peningkatan suhu (di daratan dan lautan) paling banyak terjadi di Eropa, Mediterania, Timur Tengah, Selandia Baru, dan Rusia, serta di sebagian samudera Atlantik dan Pasifik Barat. Hanya di Amerika bagian Utara, seperti Kanada, dilaporkan suhunya lebih sejuk.

Secara keseluruhan, daratan mengalami peningkatan suhu 1,12 derajat celcius. Sedangkan lautan juga terasa lebih hangat 0,66 derajat celcius dibandingkan dengan rata-rata suhu di abad 20, kata NOAA.

Wilayah yang paling terkena dampak perubahan iklim adalah Kutub Utara. Pemanasannya terjadi dua hingga tiga kali lebih cepat daripada rata-rata global. Dia mengatakan terjadi penurunan besar massa es di laut Arktika. Terutama pada di musim panas dan pada bulan September yang merupakan periode es laut minimum di Kutub Utara.

BACA JUGA: Deklarasi Bali, Hasil Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup Sedunia

"Kami jelas sangat peduli dengan apa yang terjadi di Kutub Utara," kata Schmidt. 

NASA dan NOAA mengatakan sudah mengecek ulang hasil ini. Satelit NASA telah melacak data iklim sejak 1979. Fungsinya sebagai pemeriksaan luar atas data yang dikumpulkan lewat stasiun di bumi. Satelit-satelit ini menunjukkan Arktika lebih panas dari sebelumnya.