Simbol kekaisaran Jepang terwujud dalam tiga benda.

Dilantik, Kaisar Baru Jepang Naruhito Tak Pakai Mahkota

Dyah Ayu Pitaloka

Rabu, 1 Mei 2019 - 08:17

dilantik-kaisar-baru-jepang-naruhito-tak-pakai-mahkota

Gunung Fuji di Jepang. Foto: Manuel Cosentino / Unsplash

JATIMNET.COM, Surabaya – Kaisar Naruhito telah bersumpah untuk memenuni perannya, sebagai “simbol dari negara dan kesatuan”, dalam penampilan pertama setelah menerima tahta kekaisaran, Rabu 1 Mei 2019.

Kaisar berusia 59 tahun itu muncul di depan publik, melalui sebuah seremonial simbolik yang pendek, dalam istana.

Dalam pidatonya, Kaisar Naruhito memberikan penghormatan kepada ayahnya, Kaisar Akihito, dan secara bersamaan bersumpah untuk memberikan perhatian pada rakyatnya.

“(Akihito) menunjukkan kasih sayang melalui sikapnya sendiri. Saya bersumpah jika saya akan bercermin pada jejak Kaisar Emeritus, dan memenuhi tanggungjawab saya sebagai simbol negara, serta kesatuan masyarakat Jepang,” katanya, dikutip dari Bbc, pada Rabu 1 Mei 2019.

BACA JUGA: Kaisar Jepang Akihito Turun Tahta Setelah Berkuasa Tiga Dekade

Secara teknis, Naruhito telah menjadi kaisar Jepang pada tengah malam, ketika rezim pemerintahan ayahnya berakhir, sekaligus menandai awal dari era “Reiwa”, atau harmoni yang indah.

Namun, pada Rabu 1 Mei 2019 pagi, posisi Naruhito dikukuhkan lewat ritual simbolis penyerahan tiga simbol suci kerajaan, yaitu sebuah pedang, permata, dan kaca. Tiga tanda suci ini telah diwariskan turun temurun.

Tiga tanda suci itu sebagai pengganti mahkota, karena Kaisar Jepang tidak bermahkota.

Meskipun, tiga barang tersebut hanyalah duplikat, sementara tanda yang asli tersimpan di salah satu kuil di Jepang, dan tak pernah terlihat wujudnya.

BACA JUGA: Dari Perempuan Jepang ke Kembang Jepun

Naruhito meneruskan posisi ayahnya Akihito, yang turun tahta karena usia dan kesehatan yang terus menurun. Akihito yang kini berusia 85 tahun, menjadi kaisar Jepang pertama yang turun tahta, dalam 200 tahun terakhir.

Kaisar Naruhito dan istrinya Masako Owada, diharapkan memiliki tampilan lebih modern.

Alumi Oxford itu pada konferensi pers tahun 2017 mengatakan, “karena ada angin baru yang berhembus di setiap era, peran dari keluarga kaisar berubah di tiap era,”.

“Saya ingin belajar banyak dari masa lalu, sekaligus mengejar peran ideal yang bisa diambil kerajaan di masa depan,”.

BACA JUGA: Jelang Lengser, Kaisar Akihito Rayakan Ultah Pernikahan ke-60

Namun, ia juga diharapkan mampu melanjutkan warisan dari ayahnya, bekerja dekat dengan rakyat.

Kaisar dan permaisuri bertemu dalam sebuah jamuan teh dan menikah di tahun 1993.

Permaisuri Masako adalah alumni Harvard dan Oxford, dan memiliki karir diplomat yang cemerlang, sebelum menikah.

Pada jurnalis, Permaisuri mengatakan menerima pinangan Naruhito karena sang Kaisar berkata: “Kamu mungkin takut dan khawatir untuk bergabung dengan keluarga kekaisaran. Tapi saya akan melindungimu seumur hidup saya,”.

BACA JUGA: Jepang Umumkan Era Kekaisaran Baru "Reiwa"

Mereka memiliki satu anak, Putri Aiko yang lahir tahun 2001. Namun berdasarkan aturan, Jepang melarang perempuan menjadi pewaris tahta.

Permaisuri Masako telah berjuang menyesuaikan diri dengan kehidupan kerajaan, serta mengatasi tekanan untuk mendapatkan keturunan laki-laki.

Dia dilaporkan mengalami gangguan tekanan mental, dan mengakui jika dia merasa “tidak nyaman” untuk menjadi permaisuri.

Namun, dia telah bersumpah untuk memberikan yang terbaik bagi Jepang.

BACA JUGA: London Kota Tujuan Wisata Terbaik Dunia, Bali Urutan Lima

Kakak Naruhito, Pangeran Fumihito akan menjadi ahli waris atas tahta kekaisaran berikutnya, diikuti dengan keponakan Naruhito, Pangeran Hisahito yang kini berusia 12 tahun.

Jika kaisar sebelumnya menjaga jarak dengan rakyat, maka Akihito mematahkan aturan itu, dan kemudian dikenal karena kepeduliannya.

Ia juga berperan sebagai diplomat, dan menjadi duta tak resmi Jepang serta melakukan lawatan ke luar negeri secara ekstensif. Naruhito diharapkan melanjutkan peran ini.

Akihito kemudian akan dikenal sebagai “Joko”, yang berarti “kaisar agung, atau “Kaisar Emeritus” dalam bahasa Inggris, sementara istrinya Michiko akan menjadi “Permaisuri Emeritus”.

BACA JUGA: Garuda Indonesia Masuk Daftar Maskapai Terbersih Dunia

Hingga saat ini, Kekaisaran Jepang menjadi yang tertua di dunia. Sejarahnya dimulai sekitar 600 tahun sebelum masehi.

Awalnya, kaisar Jepang dilihat sebagai Tuhan, namun Kaisar Hirohito, kakek Naruhito, secara luas mengumumkan untuk meninggalkan keilahiannya di akhir masa perang dunia kedua, sebagai bagian penyerahan Jepang.

Saat ini, peran kaisar lebih pada urusan seremonial, serta dilarang untuk membuah pernyataan politik.

Kaisar Akihito terlihat mendefinisikan ulang peran kaisar, membantu memperbaiki kerusakan reputasi Jepang pasca perang dunia.

BACA JUGA: Garuda Indonesia Resmi Layani Penerbangan Jakarta-Nagoya

Jika kaisar sebelumnya menjaga jarak dengan rakyat, maka Akihito mematahkan aturan itu, dan kemudian dikenal karena kepeduliannya.

Ia juga berperan sebagai diplomat, dan menjadi duta tak resmi Jepang serta melakukan lawatan ke luar negeri secara ekstensif. Naruhito diharapkan melanjutkan peran ini.

Akihito kemudian akan dikenal sebagai “Joko”, yang berarti “kaisar agung, atau “Kaisar Emeritus” dalam bahasa Inggris, sementara istrinya Michiko akan menjadi “Permaisuri Emeritus”.

Baca Juga