JATIMNET.COM, Surabaya – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok gagal menjadi Gubernur DKI Jakarta setelah didemo sejumlah ormas berjilid-jilid. Peris buku, yang berjilid-jilid.

Ahok didemo lantaran dinilai menghina umat islam saat berpidato di Kepulauan Seribu. Demo berjilid-jilid itu memaksa Ahok gagal menjdi gubernur dan menjadikannya sebagai tersangka penista agama.

Aksi yang, bak buku, berjilid-jilid itu kemudian dikenal Aksi 212, merujuk demo yang digelar pada 2 Desember 2016.  Dalam demo tersebut beberapa peserta demo memakai baju ala Wiro Sableng, tokoh fiktif dalam novel karya Bastian Tito yang memiliki senjata andalan kapak Naga Geni 212.

Ilustrator: GIlas Audi

Dua tahun berselang, sejumlah ormas Islam menggelar tapak tilas di Tugu Monas. Mereka datang dari berbagai daerah, untuk menggelar reuni sekaligus pengajian, yang tak lupa mengundang tokoh-tokoh politik.

Sebut saja calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Wakil Ketua Dewan Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, dan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais.

Ilustrator: Gilas Audi

Pada saat bersamaan Presiden Joko Widodo yang memang tidak diundang, menijau pemasangan listrik masyarakat pra sejahtera di Kelurahan Bantarjati Kota Bogor. Malahan Presiden Joko Widodo menikmati bersepeda dengan menempuh perjalanan sekitar 1,5 km didampingi Menteri BUMN Rini Soemarno dan jajaran direksi BUMN.

Ilustrator: Gilas Audi

Lokasi aksi yang tidak tersedia toilet umum menyebabkan peserta mencari tempat untuk buang air kecil. Bahkan antrean panjang terlihat hingga Masjid Istiqlal. Sebelumnya Gubernur Jatim Soekarwo mengingatkan agar tidak perlu ikut reuni 212 jika kesulitan mencari kamar kecil. Tujuannya agar tidak pipis sembarangan dan tidak sembarang dipipisi.

Ilustrator: Gilas Audi

Hadirnya sejumlah tokoh politik dalam reuni itu menguatkan dugaan bahwa tapak tilas tersebut beraroma kampanye. Meskipun Prabowo Subianto dalam pidatonya mengucapkan terima kasih telah diundang.