Dyah Ayu Pitaloka

Sabtu, 2 Maret 2019 - 07:17

TAK banyak orang punya kemampuan merias jenazah. Kalau pun ada, sering tarifnya tak murah. Adalah Agustina Suci Hati, ia satu di antara yang langka itu.

Suci ibu rumah tangga, warga Kupang Panjaan Kecamatan Tegalsari Kota Surabaya, dan guru Taman Kanak-kanak berusia 45 tahun. Ia memang bukan profesional di bidangnya. Tapi dedikasinya pada pekerjaan ini tak bisa dianggap sepele.

“Saya merias jenazah untuk ibadah,” kata perempuan kelahiran Bojonegoro itu, saat ditemui Jatimnet.com di sebuah pusat perbelanjaan di Ngagel Surabaya, Kamis 28 Februari 2019.

Ia bercerita, pengalaman pertama merias jenazah terjadi 26 tahun silam. Itu tahun 1993 saat ia masih jadi mahasiswa semester V Jurusan Ilmu Pendidikan dan Keguruan Agama Katolik di STKIP Widya Yuwana Madiun.

Suatu hari, ia kebagian tugas melayani umat di Mantingan, Ngawi. Laiknya katekis, Suci bertugas melayani umat. Ia memimpin doa, ibadah, hingga berdoa untuk si sakit.

Suci mengingat di wilayah penugasannya ada umat yang sakit menahun. Pada bulan ketiga bertugas di Ngawi, ia pergi ke rumah orang itu. “Buang air besar dan tidurnya ada di tempat yang sama,” katanya.

Si sakit, ia melanjutkan, adalah seorang lelaki tua, tinggal di bangunan yang dikelilingi kebun jagung, dan terisolir dari kehidupan warga sekitar. Saat malam tiba, rumahnya hanya diterangi bola lampu 5 watt. Pendar cahayanya bahkan tak seterang nyala lilin.

Seperti mahasiswa lain, ia berdoa. Berharap si sakit mendapat kesembuhan dan Tuhan mengangkat beban hidupnya.

Tujuh jam setelah Suci merapal doa, lelaki itu meninggal. “Tuhan mendengar doa kami, sakitnya diangkat Tuhan,” katanya.

Tengah malam, sekitar pukul 02.00 WIB, seorang keluarga almarhum menjemput mahasiswa. Ia mengira mereka yang bertugas di Ngawi bisa mengurus jenazah dan merias jasad.

Nyatanya tak satu pun sanggup, kecuali Suci. Ia pun memberanikan diri mengambil tanggung jawab itu. Di bawah temaram lampu, ia merias jenazah.

Ia mengatakan selalu meminta izin pada sang mayat sebelum memperlakukan jasadnya. Untuk menekuk lengan, memiringkan badan, hingga memasangkan pakaian, kaos kaki, dan sepatu, serta membedaki dan memerciki minyak wangi.

“Mbah sekarang kita pakai baju ya,” katanya menirukan permintaan pada si mayat kala itu.

Ia percaya jenazah mendengar. Badan jenazah pun tak kaku sehingga proses memakaikan baju dan celana berjalan lancar.

Untuk merias jenazah, menurut dia, suasana hati harus damai. Jangan ada kesal dan marah. Jika emosi itu mendominasi, apalagi tak berdoa, ia percaya proses merias jenazah akan terganggu. Apa yang dikerjakan pun dikhawatirkan salah dan tak menemukan jalan dari Tuhan.

Alhasil, tak sampai 30 menit, jenazah tuntas dirias. Jasad bersih, bibir berhias senyum, tangan tertelangkup di atas perut, dan mayat itu itu pun tampak damai terbaring di peti mati.

Suci mengenang, ia selipkan kitab suci dan rosarilo miliknya di tangan jenazahnya.

Sejak itu, merias jenazah lekat pada keseharian Suci. Ia tak pernah canggung  membantu siapa pun yang butuh keterampilannya. Ia pun tak pernah mematok tarif. Apalagi untuk kaum papa, ia tak memungut biaya.

Seperti pada tahun 2000an ketika ada seorang kristiani meninggal. Keluarganya tak ada dana untuk menyewa jasa pemakaman lengkap dengan periasnya. “Teman saya minta tolong pada saya untuk merias jenazahnya, jadi saya ikut bantu,” katanya.

Ia pun kerap sekadar membantu keluarga mengurus jasad mendiang. Seperti beberapa tahun lalu, ketika ada warga di lingkungannya meninggal. Saat itu, pihak keluarga ingin merawat jenazah sendiri sebagai bentuk bakti dan penghormatan terakhir pada mendiang.

“Waktu itu anaknya juga ikut merias jenazah ibunya. Saya bantu merapikan mekap, serta memakaikan kebaya dan sepatu,” katanya. Almarhumah, menurut dia, semasa hidup gemar berkebaya. “Ia bisa cantik ketika menghadap Tuhan.”

Perawat jenazah. Ilustrasi: Gilas Audi.

Percaya Tak Boleh Menawar Harga

Suci percaya jangan menawar harga untuk memenuhi kebutuhan jenazah. Cara itu, dianggap mampu membawa mendiang bertemu Tuhan tanpa halangan. “Ya, mungkin supaya lancar segalanya,” katanya.

Sesulit apa pun cara mendapatkannya, penuhilah. Begitu keyakinannya.

Ia lalu mengisahkan pengalaman merias jenazah pada akhir 2017. Kala itu ibu seorang temannya, meninggal. Pada kerabat, semasa hidup, mendiang pernah berpesan agar dimakamkan dengan mengenakan kebaya merah.

“Ibu teman saya meninggal pada Kamis malam. Sekitar jam 12 malam Jumat kami keliling Surabaya mencari kebaya merah,” ia mengingat.

Pencarian berjalan tak mudah. Satu salon yang berhasil ditemukan menolak melayani karena larut malam. Tapi akhirnya, ada salon yang berkenan memenuhi permintaan keluarga almarhumah.

Di sana, mereka membeli kebaya merah, selendang, sepatu, dan kaos kaki. Total biaya yang harus dibayar mencapai Rp 1,5 juta. “Kami membeli tanpa menawar,” katanya.

Begitu pula untuk kebutuhan lain. Seperti bunga, minyak wangi, bingkai foto, kitab suci, dan Rosario untuk disertakan dalam peti. “Memang tidak boleh menawar kalau untuk kebutuhan jenazah,” katanya.

Memperlakukan jenazah harus seperti merawat orang yang masih hidup. Ia mengatakan tak mengenakan sarung tangan saat memoles wajah jenazah. Baginya, ia butuh menyatu dengan jenazah agar riasan sempurna.

Tak ada bekal mekap khusus. Malah seringnya, ia menggunakan mekap yang disiapkan oleh tuan rumah. Satu-satunya persiapan sebelum merias jenazah yang ia lakukan adalah mengenakan masker dan mencuci tangan.

“Mungkin beda dengan profesional ya. Kalau profesional sudah terbiasa, punya caranya sendiri. Tapi kalau saya harus dengan hati yang damai dan membaca doa lebih dulu,” kata ibu tiga anak itu.

Bagi perempuan yang menjabat Sekretaris PKK di kampungnya itu, merias jenazah adalah ihtiar melayani sesama manusia.

Biaya pengurusan jenazah tercatat tak murah. Harga termurah untuk sepaket pemakaman; dari merias jenazah, peti, katering, tenda, hingga proses pemakaman berkisar pada angka Rp 5-8 juta. Tapi ada juga pemakaman yang memakan biaya hingga puluhan juta rupiah.

“Ada yang habis Rp 80 juta. Itu fasilitasnya lengkap. Jenazah juga bisa diawetkan di lemari es sambil menunggu semua kerabat berkumpul,” katanya.

Untuk mengatasi mahalnya biasa itu, ada sejumlah cara yang ditempuh warga. Misalnya saja, di gereja tempat Suci beribadah, ada iuran bulanan untuk bantuan membeli peti mati. Adapun keterampilan merias jenazah, umat menggelar pelatihan.

Toh tak semua orang bisa melakukannya. Ada dua alasan utama, tak berani atau tak ada uang. Di sinilah jasa Suci dibutuhkan.

Suci mengatakan tak pernah memungut upah untuk merias jenazah. Bahkan ia tak pernah menerima pemberian uang dari keluarga mendiang. Tapi kadang ia membawa pulang makanan, sekadar bentuk terima kasih keluarga.

Gara-gara dedikasinya itu, seorang kawan pernah memberi apresiasi lebih. “Ia memberi saya tiket liburan dan mengajak jalan-jalan keliling Jakarta,” katanya.

Suci mengatakan tak pernah ragu merias jenazah. Satu yang tak bisa ia lakukan, merias jenazah keluarga sendiri. Ia tak sampai hati.

Baca Juga

loading...