Dyah Ayu Pitaloka

Sabtu, 9 Februari 2019 - 07:40

GELAR “Cak Jancuk” yang disematkan Sujadi alias Cak Muhammad Cheng Hoo Djadi Galajapo (Gabungan Lawak Juara Jawa Pos) kepada Presiden Joko Widodo menyedot perhatian publik. Pemberian gelar ini dilakukan di Tugu Pahlawan Surabaya, Sabtu 2 Februari 2019. Saat itu Djadi dipercaya menjadi pembawa acara Deklarasi dan Penyematan PIN Tim Blusukan Jatim #01.

Djadi pun mendadak naik daun. Gelar pemberiannya menasional. Ada yang merespons positif, ada pula yang mengernyitkan dahi tak sepakat. Salah satunya datang dari panitia acara deklarasi itu sendiri. Kabar berembus gelar itu adalah inisiatif spontan Djadi di atas panggung.

“Itu memang ide saya, tapi sudah saya sampaikan pada tim panitia. Dan semuanya sepakat tidak ada yang menolak,” kata Sujadi, kepada Dyah Ayu Pitaloka, jurnalis Jatimnet.com yang mewawancarainya, Rabu 6 Februari 2019.

BACA JUGA: Di Surabaya Joko Widodo Dijuluki 'Jokowi Jancuk'

Gelar Jancuk bukan yang pertama dikeluarkan oleh pelawak kelahiran tahun 1965 itu. Ia sempat menyematkan ujaran khas Arek ini kepada sejumlah pejabat di negeri ini, sebut saja Basofi Sudirman, Roeslan Abdulgani, dan Dahlan Iskan.

Djadi mengajak berjumpa di Depot Anda, sebuah rumah makan di seberang Balaikota Surabaya. Songkok hitam setinggi 17 sentimeter bertengger di kepalanya. Ada dua putrinya yang menemani.

Djadi Galajapo lantas menuturkan kronologi lahirnya gelar “ Cak Jancuk” untuk Presiden Joko Widodo.

Berikut petikannya.

Cak, bagaimana sih ceritanya sampai ada gelar “Cak Jancuk” itu?

Jadi waktu itu jam setengah sepuluh pagi sebelum naik pentas seluruh MC diajak rapat oleh tim pengarah di Hotel V3 Jalan Tambak Bayan. Di situ dibahas tentang susunan acara serta pemakaian rompi Cak Jokowi.

Lantas saya usul, kalau hanya cak saja rasanya akan lewat, hanya seremonial belaka. Maka perlu muatan lain. Ini sebenarnya spontan, terinspirasi panitianya. Karena mayoritas di situ anak ITS saya usul yaitu kata Jancuk. ITS dulu juga pernah punya motto “ITS Cuk”.

Apa nggak takut direspons negatif, Cak?

Itu ada kepanjangannya. CAK itu Cakap, Agamis, Kreatif, JANCUK itu saya artikan Jantan, Cakap, Ulet, Komitmen. Jancuk ini kan multitafsir, iso caci maki, umpatan, keakraban, kekaguman dan pengakuan. Saya tambahkan juga Jancukan, karena Surabaya Tengah seringnya memakai Jancukan. Tambahannya Anti Korupsi.

Nah, saya ingin menyosialisasikan makna jancuk yang positif dan itu tugas seorang seniman. Bagaimana saya tutup arti jancuk yang negatif itu? Saya coba mencari akronim, dan itu melalui proses kreatif, nggak semua orang bisa. Sampai kemudian Jancuk dan Jancukan bisa saya artikan Jantan, Amanah, Nahdoh atau Kebangkitan, Cakap, Ulet, Komitmen, dan Anti Korupsi (Jancukan).

Kok ganti lagi cak, ada Nahdoh dan Amanah?

Saya bilang Amanah kalau ada di depan audiens legislatif, Nahdoh saya berikan pada audiens yang banyak Nahdliyin

Lantas bagaimana respons yang lain di rapat itu?

Semuanya setuju, nggak ada yang keberatan atau melarang. Bahkan Pak Teguh Prihandoko memberikan dua jempol buat saya. Kan pak Teguh ini yang belakangan bilang itu inisiatif saya pribadi. Ya memang idenya dari saya, tapi saya sampaikan di rapat. Saya ini sudah 35 tahun pengalaman, jadi sebelum saya sampaikan saya godok dulu, saya kelola, bagaimana akurasi yang saya katakan. Makanya saya diizinkan panitia, diizinkan juga oleh Pak Teguh.

Bagaimana sambutan khalayak dan presiden saat di panggung?

Saat saya sebut, Jokowi… semuanya jawab jancuukkk, semuanya euphoria, panitia seneng Jokowi puas. Buktinya apa? Jokowi sambutannya panjang dan heroik, dia berkali-kali ngomong Jokowi Wani, Jokowi Wani.

Sekarang kabarnya panitianya nggak suka dan nggak setuju?

Sudah seizin panita itu. Kepada panitia yang mengatakan nggak suka itu mungkin kena goreng media sosial jadinya begitu. Pak Teguh kan mengingkari (hasil rapat). Panitia yang lainnya tidak ada masalah. Tapi saya berterima kasih pada Pak Teguh. Karena beliau begitu jadi ramai, kalau ramai saya tambah top. Mudah-mudahan karena ini saya bisa dipanggil ke Istana. Karena saya MC nya Jokowi sejak kampanye sama Jusuf Kalla, saya MC nya di Surabaya. Saya juga Ketua Relawan Jokowi Ma’ruf Amin (JRM) nasional. Jadi saya nggak ada maksud mencaci, jauh dari itu.

Sebenarnya makna jancuk sendiri seperti apa, Cak?

Jancukan dalam khasanah Jawa Timur sendiri adalah budaya tutur, budaya lisan yang khas budaya arek. Meliputi Suroboyo, Gresik, Sidoarjo, Malang, Jombang, Pasuruan dan Mojokerto. Kalau ke seberang itu Mentaraman ke Timur itu Pendalungan.

Ungkapan Jancuk itu multi interpretasi, bisa marah bisa juga kekaguman. Misalnya, hebat rek, Jancuk temen ancene!. Kalau ketemu teman lama pasti bilang “Jancuk kabare yok opo cuk, tambah terkenal ae koen saiki cuk!. Ada juga yang negatif seperti “Jancuk matamu ndladap ae!.

La tugas seniman itu ada sentuhan iman, ketuhanan, sing elek elek gak usah dirumat. Orang yang pesimis harus ditinggalkan. Maka saya pakai jancuk yang positif dan konstruktif. Artinya kekaguman, pengakuan diri, prestasi. Dan Itu milik saya, bukan orang lain.

BACA JUGA: Jokowi Digelari Jancuk, Ternyata Begini Makna Jancuk Sebenarnya

Ada Presiden Jancukers di Twitter, Cak?

Ada yang mengaitkan dengan presiden Jancukers, mbah Sujiwo Tedjo. Saya selalu hormat membawa ke ranah nasional. Tapi ini jauh sebelum sekarang saya sudah pakai ini, sekitar tahun 1994/1995. Jancuk ini sudah sering saya bawa, mulai zaman Pak Basofi Sudirman, sudah sering di berbagai forum. Ada Pak Roeslan Abdul Gani, terus pak Dahlan Iskan terakhir. Mereka bangga dengan gelar khas Arek Suroboyo ini.

Cak, bagaimana posisi sampeyan sebagai ketua relawan sekaligus seniman?

Sebagai praktisi seniman saya harus ikut bertanggung jawab atas kelanjutan bangsa ini. Dan saya punya sikap bahwa netral itu adalah kebohongan publik. Kalau saya punya sikap tapi saya bilang kita netral ya itu pembohongan publik.

Wong saya sudah punya sikap berbeda. Seniman harus bisa memberikan tuntunan. Tidak hanya tuntutan sikap moral dan tabiat tapi juga sikap berpolitik. Seniman harus memberikan panduan pada penontonnya. Netral itu bahasa yang dibaliknya adalah rasa aman, sehingga bisa ke mana-mana. Bisa main di situ atau di sini. Saya gak mau itu.

Di antara seniman sendiri apakah ada yang protes dengan sikap Cak Djadi?

Awalnya protesnya berkaitan dengan job. Gak iso rene lak runu (nggak bisa ke sini ya kesitu). Saya ndak, saya kan di hire. Kita kan menyampaikan nama orang lain. Nggak mungkin sekarang menyampaikan nama A besok si B.

Memang ada seniman yang begitu, seniman kan merdeka. Ya itu hak seniman maka saya hormati. Tapi njenengan harus hormati sikap saya, tidak boleh kemudian ganda dalam pilihan sehingga membingungkan penggemarnya.

BACA JUGA: Presiden Jancukers Resmikan Jokowi Jadi Rakyatnya

Jadi kalau ada kubu sebelah yang sewa jasa sampeyan gimana, Cak?

Saya gak mau. Kalau anda di seberang, kubu Prabowo, tetap saya hormati. Tapi anda tidak berhak membeli jasa saya, berapapun. Ada pelanggan saya Pak Bambang Haryo, owner  DLU (PT.  Dharma Lautan Utama) itu pelanggan saya. Tiap tahun ratusan juta dari beliau. Itu sekarang saya tolak karena dia ada di kubunya Pak Prabowo.

Apakah pelawak selalu dihubungan dengan pilihan politiknya, Cak?

Tapi kan atmosfernya udah merasuk ke mana-mana, ke lini kehidupan. Kalau sampai ada yang tahu saya pendukung Ahok misalnya, kan bisa merusak acara. Saya ini pendukung Ahok dari dulu sampai sekarang. Apa yang terjadi? Job saya 70 persen ikut turun di Jakarta.

Apakah materi lawakan gak jauh dari kondisi politik, Cak?

Itu melihat audiens. Kalau ceramah otomatis candaan saya yang berkaitan dengan nilai agama. Innamal a’malu bin niat. Lihat orang itu dari niatnya. Jangan karena pakai sorban kemudian kata-katanya pasti kita dengar. Jancuk lebih suci apabila keluar dari hati yang bersih daripada takbir yang keluar dari hati yang kotor. Berucap takbir kemudian merusak, mending Jancuk tapi merangkul dengan kasih sayang.

BACA JUGA: Kalau Ke Jatim Jokowi Dipanggil 'Cak'

Jadi sampeyan pelawak atau da’i, Cak?

Saya ya pelawak, ceramah agama, motivator. Karena dasar saya adalah guru PPKN SMP, SMA. Saya ngajar sejak 1986 dan resign tahun 2009. 23 tahun mengajar. Saya juga punya lima buku, sekarang sedang proses bikin buku ke enam. Buku pertama berjudul Neraka Well dan Kue Terang Bulan, Kemudian Surabaya Dahsyat, Tiga Puluh Tahun mbanyol di Jawa Pos, Pelawak: Penuntut Laku di Segala Waktu dan ke lima, Pesan Puasa Pelawak Pancasila. Buku terakhir itu setelah terjadinya bom Surabaya.

Kalau nama sampeyan siapa, Cak?

Nama saya Sujadi. Galajapo berdiri tahun 1992, Gabungan Lawak Juara Jawapos (Galajapo)

Kalau nama Cak Muhammad Cheng Hoo Djadi Galajapo itu gimana?

Itu nama haji saya. Saya bikin sendiri waktu di Makkah. Itu saya nebus dosa. Karena apa? Orang cina dipaksa pakai nama Jawa sementara tak satupun orang Jawa pakai nama Cina. Tapi di sanapun dianggap banyolan awalnya.

Baca Juga

loading...