JATIMNET.COM, Surabaya – Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyebutkan investasi terganggu dengan pengenaan cukai dan beredarnya kampanye larangan penggunaan berbahan plastik.

“Sempat ada investasi yang akan masuk. Tapi karena maraknya pengenaan cukai plastik sampai larangan penggunaan plastik membuat rencana investasi itu terganggu,” ujar Budi, Kamis 10 Januari 2019.

Padahal masuknya investasi itu diharapkan bisa membiayai proyek industri hulu senilai 10 milliar dolar Amerika Serikat. Namun karena gencarnya isu soal plastik yang muncul, membuat investor ragu untuk datang ke Jawa Timur.

Padahal, investasi tersebut diharapkan dapat membantu pembangunan industri hulu untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku.

BACA JUGA: Industri Manufaktur Nasional Sumbang PDB Tertinggi Di Asean

Sebenarnya dampak berkembangnya isu tentang plastik ini tidak hanya berpengaruh pada investasi. Melainkan juga pendapatan dari industri plastik turut terganggu. Budi mengklaim, gencarnya isu negatif soal plastik turut mengurangi pemasukan industri hingga 15 persen.

“Kami harap pemerintah bisa lebih bijak dalam membuat keputusan karena bisnis kami ini juga ikut berkontribusi menopang perekonomian nasional,” ungkap Budi.

Salah satu kebijakan pemerintah yang dirasa memberatkan adalah wacana cukai plastik. ”Pemberlakukan cukai plastik bisa dikatakan bukan win-win solution, tetapi malah self destruction,” urainya.

BACA JUGA: Parlemen Dorong Pemprov Jatim Bangun Industri Pertanian Dan Perikanan

Sejalan dengan itu, Inaplas berharap permintaan plastik tahun ini masih bisa tumbuh positif sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Budi memprediksi konsumsi plastik sampai akhir tahun 2019 bisa mencapai 6 juta ton dibanding tahun lalu yang mencapai 5,6 juta ton.

”Meskipun banyak kendala tapi kami masih optimis bisa tumbuh karena ditopang oleh industri makanan minuman yang menggunakan kemasan plastic, dengan memberi kontribusi 40 persen,” tandasnya.

Hal lain yang menghambat pertumbuhan industri plastik lantaran masih tergantung dari bahan baku impor. Sedikitnya 95 persen bahan baku hulu plastik yang biasa disebut monomer (nafta, ethylene, dan propylene) mendatangkan dari luar negeri. Sementera empat perusahaan yang dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan domestik yang mencapai lima juta ton.