JATIMNET.COM, Surabaya - Rek ayo rek mlaku-mlaku nang Tunjungan, rek ayo rek rame-rame bebarengan…

Lagu itu terputar otomatis tiap pejalan kaki menekan tombol di jalur penyeberangan di Jalan Tunjungan Surabaya. Lampu merah menyala, mobil berhenti, dan pejalan kaki melintas.

Kamis 8 November 2018 malam, saya mengunjungi Jalan Tunjungan. Lampu hias berpendar di mana-mana, suasana menjadi semarak. Trotoar lebar dan bersih membuat pejalan kaki nyaman menyusuri jalan. Saya pergi menuju arah hotel Majapahit.

Sebelum berganti nama menjadi Hotel Majapahit, hotel itu bernama hotel Oranje dan Yamato. Pada 19 September 1945, sebuah peristiwa perobekan bendera Belanda –merah, putih, biru- menjadi Merah-Putih terjadi di tempat itu. Bagi para pemuda, sejak Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta, Belanda tak boleh lagi bercokol di Indonesia.

Meski republik ini masih sangat belia usianya, kedaulatannya harus tetap dijaga. 27 Agustus 1945, Komite Nasional Indonesia Pusat memerintahkan pengibaran bendera Merah-Putih di penjuru negeri, termasuk Surabaya.

Lima hari sebelumnya, Badan Keamanan Rakyat Jawa Timur berdiri dengan komandannya Dr.Moestopo. Sementara KNI Surabaya terbentuk pada 28 Agustus 1945 dengan ketuanya Doel Arnowo.

Bersama laskar-laskar pemuda, lembaga-lembaga itu meradikalisasi massa untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya melalui rapat umum yang digelar pada September 1945 di Lapangan Tambaksari Surabaya. Rangkaian peristiwa sejarah itu hakekatnya tak terpisahkan dengan peristiwa 10 November.

Hotel Majapahit alias hotel Oranje kini berdiri bersanding dengan gedung-gedung tinggi. Beberapa saat lamanya saya menikmati keindahan malam di sana. Mengilhami heroisme pemuda dalam pertempuran Surabaya yang tersisa.

Puas mlaku-mlaku nang Tunjungan, perut keroncongan. Seorang kawan yang menemani perjalanan saya membawa saya ke Warung Sego Sambel Mak Yeye di Wonokromo. Tiap malam warung yang buka sejak pukul 22.00 WIB hingga subuh itu nyaris tak pernah sepi pembeli.

Sepiring sego sambel dihargai Rp 18 ribu. Sambal tomatnya menggunung dengan dua pilihan, manis atau pedas. Menu komplet berisi nasi, sepotong iwak pe atau ikan pari asap, dua potong tempe, dan satu telor dadar goreng. Nasinya tidak begitu banyak. Tapi kebanyakan pembeli memesan satu setengah porsi.

Nasi sambel disajikan tanpa sayur apapun layaknya lalapan. Ada pula varian menu lain seperti lele, ayam dan telor ceplok.

Warung itu ada sejak 1982. Mak Yeye adalah perempuan bernama asli Supriyani asal Jember. Postur tubuhnya kecil, kulitnya kecokelatan. Di usia tuanya kini ia tetap cekatan meladeni pembeli meski kakinya sering terasa sakit.

“Saya sekarang sudah tak bisa berlari, kaki saya ini sudah nggak kuat,” katanya diikuti tawa ramah.

Jauh sebelum warung Mak Yeye berdiri, Wonokromo adalah salah satu tempat pertahanan kaum pemuda dalam pertempuran Surabaya.

Dalam bukunya, Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan, Soemarsono bercerita pasukannya sedang mengepung tentara Inggris di stasiun trem Wonokromo dan Kebun Binatang ketika mobil Presiden Soekarno melintasi Jalan Ngagel pada 29 Oktober 1945.

Malam sebelumnya, komandan tertinggi pasukan sekutu di Asia Tenggara Letjen Christison terbang ke Jakarta menemui (beberapa literatur menyebut menelpon) Soekarno. Ia meminta Soekarno untuk menghentikan serangan para pemuda terhadap pasukan Mallaby di Surabaya. Dengan kekuatan 6.000 personel bukan tak mungkin pasukan Mallaby dilibas habis Arek-arek Suroboyo yang berkekuatan lebih dari seratus ribu orang.

Soekarno menyanggupi permintaan Christison. Ia terbang bersama wakilnya Muhammad Hatta dan menteri penerangan Amir Syarifuddin. Menumpang mobil berkeliling kota, mereka menyerukan gencatan senjata.

“Saya berdiri di tengah jalan menghentikan mobil yang ditumpangi Bung Karno dan Bung Hatta,” kata Soemarsono dalam bukunya.

Ia tumpahkan kekesalan pada Soekarno, kenapa pertempuran dihentikan justru di saat Inggris nyaris kalah.

Soekarno diam. Ia hanya mencolek Amir Syarifuddin. Amir turun dari mobil, Soemarsono kehilangan daya.

We have to win the war, not the battle,” bisik Amir pada Soemarsono.