JATIMNET.COM, Surabaya - Pukul 07.30 WIB bus warna merah itu sudah terparkir di pintu keluar terminal Purabaya untuk menanti penumpang. Warna catnya yang mencolok membuatnya mudah dikenali meski bersanding dengan bus-bus komersil lain.

Selain warna, ada yang berbeda di dalam bus berdek rendah (low deck) ini. Kursi penumpangnya berwarna-warni. Bukan tanpa sengaja warna kursi berbeda. Kursi merah muda yang berderet di belakang sopir untuk penumpang perempuan. Disusul kursi merah, kursi untuk penumpang prioritas; perempuan hamil, orang Lansia, dan penyandang difabel. Adapun untuk penumpang umum, letaknya ada di bagian belakang. Kursinya warna oranye dengan lantai agak tinggi.

Bus itu juga dilengkapi dengan monitor yang menampilkan halte yang disinggahi, kamera pengintai, handle pegangan tangan, serta kaca lebar dan bening yang membuat penumpang bebas melihat pemandangan di luar. Selembar stiker tertempel di kaca jendela, menerangkan larangan bagi penumpang. Makan dan minum, merokok, serta berbuat cabul pada perempuan. Peringatan yang penting tapi jarang terlihat di transportasi publik lain.

Di antara sekian banyak perbedaan, ada satu yang tak pernah saya temui di tempat mana pun. Bus ini tak melayani transaksi pembayaran dengan uang. Satu kalimat “Maaf tidak melayani pembayaran uang tunai dalam bentuk apapun” tertulis dalam font hitam tebal di atas permukaan stiker warna kuning, mempertegas aturan itu. Sebagai gantinya, penumpang diwajibkan membayar pakai sampah botol plastik.

Sebelum berangkat, seorang kawan sudah mewanti-wanti agar saya membekali diri dengan botol plastik bekas. Di perjalanan menuju terminal, saya membeli sebotol air mineral meski di tas sudah ada sebotol. Toh, saya tetap was-was. Jangan-jangan botol plastik yang saya miliki tak cukup untuk membayar ongkos menumpang bus.

Sementara mau turun dan bertanya pada petugas di halte saya ragu –karena takut bus berangkat dan saya tertinggal-, saya memberanikan diri bertanya pada perempuan di kursi sebelah. Ita, begitu penumpang itu memperkenalkan nama, menjelaskan detil pembayaran.

Ada dua cara pembayaran. Pertama, penumpang menyerahkan botol plastik bekas ke kondektur di atas bus. Perhitungannya, tiga botol besar setara lima botol tanggung atau sepuluh gelas plastik untuk sekali jalan.

Cara kedua, calon penumpang menukar botol dengan stiker kecil yang ditempelkan di atas selembar kartu. Penukaran dilakukan di halte. Saat menumpang bus, penumpang tinggal memperlihatkan kartunya pada kondektur. Dan kondektur melubangi kartu tepat di posisi stiker tertempel untuk menandai pembayaran.

“Maksimal 21 stiker untuk sekali tukar,” katanya, sembari menyerahkan selembar kartu penuh stiker warna merah muda pada saya. Ah! mungkin ia tahu saya penumpang pemula, yang tak punya cukup botol bekas untuk membayar bus. 

30 menit menanti penumpang, bus mulai bergerak pukul 07.56 WIB. Separuh kursi bus berkapasitas 67 penumpang itu telah terisi. Mayoritas perempuan dan anak-anak. 25 menit kemudian bus sampai di halte pertama, Dukuh Menanggal. Ita merasa ada kejanggalan. “Biasanya kondektur langsung memeriksa setelah bus berjalan. Ini kok tidak ada,” katanya.

Ia mengatakan hapal kebiasan kondektur karena hampir tiap hari memudiki terminal Purabaya-Pasar Turi dengan “bus Tayo” itu.

Bus Tayo? Saya diam tak bertanya.

Beberapa waktu kemudian penasaran saya terjawab. Di tengah perjalanan bus berhenti terjebak kemacetan. Sopir unjuk kebolehan. Ia memainkan sistem hidrolik kendaraan bermesin Mercedez Benz itu. Bus bergerak naik-turun seolah sedang menganguk-angguk.

Kan itu namanya bus Tayo, suka joget kayak di film Tayo the Little Bus,” kata Ita sambil tertawa. Saya melihat serombongan bocah penumpang bus tertawa merasakan bus bergoyang.