Dyah Ayu Pitaloka

Sabtu, 15 undefined 2018 - 07:42

TAK banyak filolog di negeri ini. Dari yang sedikit itulah terselip nama Menachem Ali, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya.

Filologi adalah kajian naskah yang berkaitan dengan fakta tulisan di masa lampau. Sebagai ahli manuskrip kuno, seorang filolog lazim menguasai banyak bahasa (polyglot). Bahkan bahasa kuno yang kita tak pernah mendengarnya.

“Saya menguasai tiga bahasa (asing) secara aktif; Inggris, Arab, dan Ibrani,” katanya pada jurnalis Jatimnet.com Dyah Ayu Pitaloka dan David Priyasidharta di rumahnya, Jumat 14 Desember 2018.

Sementara yang pasif ia kuasai bahasa Prancis, Yunani, Latin, Sanskerta, serta bahasa daerah; Jawa dan Madura. Cara terbaik belajar bahasa, kata dia, adalah bicara. “Kalau tak dipraktikkan akan terjadi kemacetan,” katanya.

Tak ada orang untuk diajak berdialog, teks pun bisa jadi lawan bicara.

Berkaus lengan pendek merek Under Armour, lelaki 46 tahun itu meladeni wawancara dengan ramah. Ia juga memperlihatkan gulungan lontar bertuliskan Surat Al Araf yang didapat dari Bali, juga kamus bahasa kuno di antara rak penuh buku.

Belajar bahasa-bahasa kuno di dunia, bagi dia, adalah belajar keindonesiaan. “Indonesia itu ajaib,” katanya.

Ia menjawab semua pertanyaan kecuali satu hal tentang namanya, Menachem Ali. “Semua orang sudah tahu,” katanya.

Berikut petikannya.

Manuskrip bertuliskan Arab Pego dari surat Al Araf di atas lontar koleksi Menachem Ali yang didapat dari Bali. Foto: Dyah Ayu Pitaloka.

Anda menguasai berapa bahasa?

Bahasa di dunia itu terbagi menjadi tiga kelompok besar; Eropa, Austronesia, dan Semit. Rumpun Semit itu seperti bahasa Arab, Ibrani, dan Suryani atau Aram. Saya menguasai tiga bahasa (asing) secara aktif; Inggris, Arab, dan Ibrani. Kalau pasif bahasa Prancis, Yunani, Latin, Sanskerta, serta bahasa daerah; Jawa dan Madura.

Kenapa tertarik belajar banyak bahasa?

Waktu kuliah S1 (Unair Surabaya) tahun 1991 saya mengaji bahasa. Saat itu ada pelajaran Sanskerta dan kebetulan ada manfaatnya, ternyata itu bahasa suci kaum Hindu. Kemudian ada kebutuhan membaca teks karena saya bergerak di kajian filologi.

Berapa lama belajar bahasa?

Ya sejak S1 dan berlanjut S2 di Baptist Theological Seminary di Semarang.

Cuma di kampus?

Bahasa kalau tidak dipraktikkan secara lisan akan terjadi kemacetan. Cari komunitas atau berdialog sendiri dengan teks. Komunitas bahasa Prancis ada di sini tapi nggak besar. Bahasa Inggris banyak. Bahasa Sanskerta dan Ibrani itu dipraktikkan dalam Yeshiva Institut, komunitas kami dalam dialog keseharian saja.

Bagaimana dengan bahasa yang sudah punah?

Berapa jumlah yang punah dan mati masih diperdebatkan di kalangan linguis. Mati artinya bahasa hanya terdokumentasi dalam teks. Misalnya Sanskerta itu bahasa mati. Tapi karena jadi kebutuhan keagamaan akhirnya komunitas Brahmana membutuhkannya. Bahasa Ibrani juga awalnya bahasa mati. Tapi karena ada negara Israel maka bahasa itu dikembangkan. Sedangkan yang punah adalah bahasa yang sudah tidak terpakai sama sekali. Seperti bahasa Firaun. Hurufnya pakai hieroglif. Itu sudah gak dipakai. Ada juga bahasa Akadia, Sumeria, Ugarik, dan Funesia di Timur Tengah.

Berarti sama sekali tak ada yang menguasai bahasa itu?

Muncul bahasa lain yang mirip dan memiliki titik temu dengan bahasa ini. Bahasa Firaun misalnya, ada yang mirip tetapi pakai aksara Yunani. Akadia, Sumeria, Ugarik, dan Funesia punya titik poin (kesamaan) dengan bahasa Arab dan Ibrani karena satu induk. Ada ingatan kolektif yang tersisa. Ini seperti bahasa Kawi, bahasa era Majapahit. Itu nggak dipakai lagi tapi jejaknya masih terpelihara dalam bahasa Jawa ragam ngoko di lingkungan pesantren. Bahasanya terpakai tapi tidak secara utuh.

Kalau bahasa kuno di Indonesia?

Di Indonesia setahu saya belum ada bahasa yang punah. Bahasanya masih dipakai meski dalam komunitas kecil. Di Papua saja ada seratusan bahasa lokal. Itu pun gak pakai aksara, tapi lisan. Kalau dicatat itu pengaruh dari bahasa Latin.

Terus manuskrip kuno bagaimana?

Manuskrip paling tua dari zaman Majapahit. Huruf yang masuk ke kita itu awalnya Palawa. Ini ditemukan pada artefak. Ada di sini (Jawa) dan Kutai Kartanegara (Kalimantan). Palawa ini lebih tua dari Sanskerta dan masuk di masa awal Hinduisme. Berikutnya yang masuk Sanskerta dan ini ditemukan dalam teks.

Kabarnya Anda juga menguasai bahasa Amazigh, bahasa pada zaman Nabi Adam?

Ketika itu saya jadi dosen tamu di Universitas Muhammad V di Rabat, Maroko tahun 2013-2014. Saya mengajar Islam khas Nusantara dan manuskrip khas Nusantara. Bahasa Amazigh dipakai di Afrika Utara, mulai dari Libia, Tunisia, Aljazair, sampai Maroko. Ada banyak dialek dan masih dipakai sampai sekarang. Ini seperti bahasa Jawa kalau di sini. Dalam tulisan Mukaddimah (karangan) Ibnu Khaldun (disebutkan) itu bahasanya Habil, anaknya Adam. Dan tulisan Amazigh itu mirip hieroglif, pakai gambar-gambar. Saya mborong kamus bahasa Amazigh-Prancis. 

Jadi benar itu bahasa pada masa Nabi Adam?

Di masa Adam sudah ada bahasa tertulis tapi para ahli masih memperdebatkan bahasa apakah itu. Ada yang mengklaim Amazigh seperti riset Ibnu Khaldun. Tapi ada pula yang mengklaim Arab, Aram, atau Sanskerta. Semua masih perdebatan. Kesimpulannya, bahasa tutur Amazigh sudah ada di masa itu tapi baru ditulis Ibnu Khaldun.

Menachem Ali memperlihatkan salah satu kamus bahasa kuno koleksinya, Jumat 14 Desember 2018. Foto: Dyah Ayu Pitaloka.

Pelajaran berharga apa yang Anda dapat setelah belajar bahasa kuno dari seluruh dunia?

Pelajaran untuk keindonesiaan. Indonesia itu ajaib. Kalau mau diperbandingkan, yang bisa menandingi kita itu hanya Amerika Serikat. Amerika himpunan bangsa terbesar, kita himpunan suku bangsa terbesar. Cari bahasa macam-macam bangsa ada di Amerika. Tapi kalau cari bahasa suku-suku bangsa maka belajar itu di Indonesia. Beragam bahasa (ada) dan tidak ada konflik (akibat) bahasa.  Perang saudara kan ndak ada. Ada riak kecil tapi mentalitas manusia Indonesia masih toleran. Makanya banyak negara datang ke sini untuk belajar, kok bisa me-manage itu dan bagaimana bisa bijak. Ya dari manuskrip itu.

Di kampus, bagaimana minat mahasiswa dengan filologi?

Secara umum peminatnya banyak tapi tak sebanyak jurusan sastra. Filologi itu kan hakikatnya novel tapi ditulis dalam bahasa dan aksara daerah. Itu jadi beban berat mahasiswa karena bahasanya bukan bahasa era sekarang. Dari sekitar 25-30 anak satu angkatan yang berminat biasanya anak pesantren karena mereka ngerti hurufnya.

Selain mengajar, apa kesibukan Anda?

Dakwah di masjid, di komunitas, di Yeshiva institute, mendidik masyarakat awam.

Dalam satu pengajian Anda pernah bilang Hajar, istri Nabi Ibrahim, bukan budak. Kok bisa begitu?

Hajar, (atau) Hagar, di kitab Yahudi (Taurat) disebut sebagai “Dia anak perempuan Firaun”. Dalam bahasa Ibrani nggak ada huruf “J”. Cuma dia awalnya menjadi rekan pekerja Sarah (istri pertama Ibrahim) dalam rumah tangga Ibrahim. Kemudian diperintahkan Sarah sebagai istri kedua Ibrahim.

Anda juga menyebutkan ritual ibadah Yahudi dan Islam mirip.

Yahudi dan Islam berasal dari ajaran yang sama rumpunnya. Bapaknya satu, Ibrahim. Dari Hajar turun Ismail hingga menurunkan Nabi Muhammad. Sedangkan dari Sarah melahirkan Ishak hingga Musa. Bait suci ada dua, bait suci Yerusalem dan Mekkah. Keduanya (Islam dan Yahudi) saling mengakui. Muslim mengakui ada dua (bait suci), cuma syariatnya sekarang di Mekkah. Sedangkan Yahudi syariatnya di Yerusalem.

Selain itu?

Ada istilah kiblat Yerusalem dan Makkah. Mereka (Yahudi) menyebut haggi, muslim menyebut haji, untuk ritual tahunan memutari kiblatnya. Makanan pun banyak yang sama. Babi, darah, dan binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Tuhan tidak boleh dimakan. Menikah satu darah gak boleh. Jadi orang Yahudi boleh makan makanan orang Islam. Salatnya (juga) ada kemiripan. Ada berdiri, rukuk, sujud. Di Islam sistem paket. Kalau Yahudi bebas. Boleh rukuk, sujud, atau berdiri. Muslim lima kali sehari. Mereka (Yahudi) tiga kali sehari; pagi, siang, dan sore. (Tapi) muslim sehari masih bisa diringkas jadi tiga; subuh, duhur dan asar, magrib dan isya. Kan ada jamak itu.

Terus bedanya apa?

Yang satu merujuk Taurat, yang satu Al Quran. Juga tentang hari suci antara Jumat dan Sabtu.

Tapi kenapa konflik antar pemeluk agama Samawi terus terjadi sampai sekarang?

(Itu) bukan konflik agama tapi politik. Perang Salib itu politik. Agama sebagai alat pembenaran. Konflik Israel, orang Yahudi pun tahu itu konflik politik. Bukan agama. Di Palestina dan Israel ada komunitas Islam dan Yahudi. Palestina adalah negara sekuler seperti Indonesia. Itu didirikan oleh dua komunitas, Arab Kristen dan Arab Islam. Agama menarik dijadikan komoditas. Jadi tergantung, agama dipakai sebagai alat atau digunakan spiritnya.

Di Indonesia muncul ekstremis Islam yang gemar mengafirkan orang lain. Tak hanya pada yang berlainan agama, pada sesama muslim pun begitu. Pendapat Anda?

Agama itu dari bahasa Sanskerta, “A” berati tidak dan “Gama” berarti kacau. Orang yang beragama seharusnya tidak membuat kekacauan dalam pikiran dan tindakan. Yang terjadi itu karena kurang dewasa dalam berpikir. Terlalu sempit memahami teks sehingga keluar dari konteks dan menjadi klaim. Seharusnya memahami agama tidak pada teks langsung tapi pada kesejarahan yang sudah ratusan tahun. Sebab setiap zaman itu punya pemahaman masing-masing.

Di Indonesia rakyat memeluk agama berbeda-beda. Bagaimana umat beragama bisa membangun bangsa?

Umat yang kritis akan memprotes informasi yang salah. Tapi umat yang tidak paham akan mudah mengikuti ulama. Ulama dan orang yang berilmu seharusnya tidak berkacamata kuda dan berpikiran dewasa.  Misalnya orang sembahyang harus begini, tangan di pusar, kan ada hadisnya. Tapi ada hadis yang juga ngomong tangan di bawah pusar, lepas tangan, di atas pusar juga boleh. Itu harus disampaikan. Mau pilih yang mana itu terserah umat. Mengambil yang satu tapi menafikan yang lain itu kurang bijak. Pemerintah juga harus terlibat. Itu agar umat dapat pemahaman benar. Kalau sekarang kami gak tahu ulama yang ngomong itu benar atau salah.

Ada orang yang bilang Anda suka ngawur. Pendapat Anda?

Mungkin karena saya kadang mengutip kitab agama lain. (Itu) karena saya ingin mencari titik kesamaan, bukan titik tengkar. Kalau pun menyampaikan perbedaan, ya itu karena sesuatu yang unik. Karena setiap agama memang berbeda.

Baca Juga

loading...