Mereka diadili atas kejahatan yang dilakukan tahun 1991.

Lithuania Adili 67 Tentara Uni Soviet Sebagai Penjahat Perang 

Dyah Ayu Pitaloka

Kamis, 28 Maret 2019 - 11:05

JATIMNET.COM, Surabaya – Sebuah persidangan di Lithuania, telah memutuskan 67 tentara Uni Soviet sebagai penjahat perang, atas serangan mematikan, yang bertujuan mencegah negara kawasan Baltik merdeka, di tahun 1991.

Uni Soviet runtuh di penghujung tahun yang sama.

Menteri Pertahanan Uni Soviet Marshal Dmitry Yazov (94), dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, dalam persidangan in absentia, dilansir dari Bbcworld, Rabu 27 Maret 2019.

Yazov, yang tercatat sebagai Warga Negara Rusia, diputus bersalah atas kejahatan perang, dan kejahatan pada kemanusiaan.

BACA JUGA: Penyidik AS Tak Temukan Konspirasi Rusia dalam Pilpres 2016

Seorang agen KGB Mikhail Golotov, dihukum penjara 12 tahun, dalam persidangan in absentia. Ia juga Warga Negara Rusia.

Moskow menolak untuk mengekstradisi dua terdakwa.

Seorang petugas militer Uni Soviet dan agen KGB berusia 66 tahun, juga dijatuhi hukuman 14 tahun penjara.

Dua orang terdakwa yang datang di pengadilan adalah Yuri Mel, mantan petugas tank, dan Grannady Ivanov, mantan petugas amunisi.

BACA JUGA: Turis Rusia Selundupkan Orangutan dalam Keranjang Rotan

Dua warga Rusia ini, masing-masing dijatuhi hukuman penjara, selama tujuh tahun dan empat tahun.

Sebagian besar dari 67 terdakwa yang diputus bersalah pada Rabu, dipercaya tinggal di Rusia dan Belarus.

Mereka terlibat dalam serangan atas sebuah menara TV, di ibu kota Lithuania, Vilnus, pada 13 Januari 1991. Serangan itu menewaskan 14 penduduk, dan melukai ratusan orang.

Negara di kawasan Baltik yang sekarang masuk dalam wilayah Uni Eropa itu, telah mendeklarasikan diri merdeka dari Uni Soviet, pada Maret 1990.

BACA JUGA: Jaksa Agung AS Terima Laporan Investigasi Dugaan Kolusi Trump-Rusia

Persidangan itu disebut ilegal dan bermotif politik, oleh Rusia.

Mikhael Gorbachev, Presiden Uni Soviet di tahun 1991, menolak untuk bersaksi.

Kerabat korban yang tewas dalam serangan Uni Soviet, mengapresiasi persidangan yang dilakukan oleh Lithuania.

“Bagi saya, yang terpenting adalah bahwa mereka yang melakukan kejahatan terhadap sipil telah dijatuhi hukuman di pengadilan,” kata Robertas Povilaitis, anak korban yang meninggal dalam serangan itu, kepada Reuters.

BACA JUGA: Warga Rusia Protes Pembatasan Internet

Hal serupa juga datang dari Presiden Lithuania, Dalia Grybauskaote. Presiden perempuan itu mengapresiasi tindakan Pengadilan Lithuania.

“Terdakwa telah terbukti membunuh warga sipil yang melindungi kebebasan dengan cara damai,” katanya.

Baca Juga

loading...