JATIMNET.COM, Surabaya – Pertarungan pemilihan presiden kian panas mendekati 17 April 2019 mendatang. Panasnya situasi tersebut tidak memberi dampak pada calon legislatif.

Nurwiyatno menegaskan bahwa caleg tidak terpengaruh coat-tail effect atau efek ekor jas dengan panasnya persaingan pilpres. “Tidak ada dampak untuk caleg dan pileg,” ujar Nurwiyatno usai menghadiri deklarasi Kelompok Arek Enom (Keren), Minggu 10 Februari 2019.

Mantan kepala Inspektorat Jawa Timur ini, caleg harus tetap turun ke bawah jika ingin meraih suara di Pileg 2019. Tidak bisa hanya bergantung pada figur calon presiden dan wakil presiden yang didukung partai masing-masing.

BACA JUGA: Elektabilitas PDI Perjuangan Lewati Parpol Peserta Pileg 2019

Karenanya Nurwiyatno mencoba memahami kebutuhan anak muda untuk mendulang suara. Salah satunya dengan menggelar diskusi untuk menjaring aspirasi kaum milineal atau anak-anak muda.

“Kita turun ke bawah, tidak ada hubungannya dengan pilihan yang lain (pilpres). Jadi untuk saya tidak ada kaitannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Surabaya Survei Center Mochtar W. Oetomo menyebutkan, caleg di luar PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Gerindra menjadi tantangan serius. Pasalnya, hanya tiga partai itu yang diuntungkan dari gelaran pemilu 2019 ini.

BACA JUGA: Kemenkominfo Deteksi 62 Hoaks Pileg Dan Pilpres

“Ini akan menjadi tantangan serius bagi caleg di luar partai nomer urut 1 dan 2 untuk menemukan strategi pemenangan yang paling efektif dan efesien untuk bisa melenggang ke gedung parlemen,” kata Mochtar.

Dosen Universitas Trunojoyo itu menilai Pemilu 2019 bakal menjadi pemilu yang sangat rumit bagi para caleg. Karena bukan saja harus memperhatikan peta politik, kompetitor dan kehendak pemilih.

Tetapi juga harus mempertimbangkan dampak potensi elektoral capres, cawapres dan partai politiknya. Terlebih dalam pemilihan legislatif tahun ini dilaksanakan berbarengan dengan Pilpres 2019.