Ahmad Suudi

Reporter

Ahmad Suudi

Sabtu, 30 Oktober 2021 - 20:00

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Jumlah produksi padi ladang di Kabupaten Banyuwangi tercatat fluktuatif dan cenderung turun dari tahun 2013 hingga tahun 2020. Berbagai pendapat beredar di masyarakat bahwa hal itu berkaitan dengan perubahan pola musim hujan, alih fungsi lahan menjadi pemukiman, hingga alih jenis tanaman menjadi buah naga dan komoditas lainnya.

Berbagai pendapat itu perlu dibuktikan kebenarannya, yang juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan sumber data terbuka. Resep jurnalisme data kali ini berupaya membuktikan korelasi naik turunnya curah hujan dengan tinggi rendahnya produksi padi ladang di Banyuwangi.

Penelusuran data kali ini dilakukan khusus untuk mengetahui keterkaitan antara jumlah rata-rata curah hujan dengan jumlah produksi pertanian padi ladang di Banyuwangi per tahun, dari tahun 2013 hingga 2020. Penanaman padi ladang membutuhkan air lebih sedikit daripada padi sawah, sehingga dianggap cocok ditanam di lahan tadah hujan.

Hipotesis yang hendak diuji adalah, naik turunnya jumlah produksi padi ladang di Banyuwangi sesuai atau berbanding lurus dengan tinggi rendahnya rata-rata curah hujan antara tahun 2013 sampai tahun 2020. Berangkat dari hipotesis tersebut, penulis akan membuat resep data terkait pengambilan, pengolahan, dan analisa datanya sebagai berikut:

SAMBUNGAN DARI:

(BAGIAN-1) Menganalisis Korelasi Curah Hujan dan Produksi Padi Ladang Banyuwangi 2013-2020

(BAGIAN-2) Menganalisis Korelasi Curah Hujan dan Produksi Padi Ladang Banyuwangi 2013-2020

 

3. Menggabungkan data 
Langkahnya, pertama buka file ‘Pertanian Banyuwangi’ di Google Spreadsheet yang sebelumnya sudah dibuat. Lalu buat satu sheet dengan nama ‘Data Gabungan’ dan salin seluruh data di sheet tentang pertanian ke sheet ‘Data Gabungan,’ dengan variabel tahun sebagai kolom.

 

Kemudian pilih data tahun 2013 sampai 2020 di sheet tentang curah hujan baris ‘Rata-rata Curah Hujan,’ lalu salin ke baris bawah sheet ‘Data Gabungan.’ 

 

4. Membuat Pivot Table

Buat sebuah Pivot Table dengan cara pilih seluruh cell yang berisi data di sheet ‘Data Gabungan’ yakni cell A1 sampai J147. Lalu klik menu ‘Data’ di atas dan klik sub menu ‘Pivot table’ diikuti klik tombol ‘OK.’ Maka akan muncul sebuah Pivot Table baru untuk menampilkan data yang akan digunakan saja.

Klik cell berwarna ungu, maka akan muncul sidebar sebelah kanan atau kolom untuk melakukan filter data yang dibutuhkan saja. 

Klik tombol ‘Add’ di baris ‘Columns’, lalu klik ‘Indikator’ untuk menjadikan ‘Indikator’ sebagai judul kolom tabel. Kemudian klik tombol ‘Add’ di baris ‘Columns’, lalu klik ‘Satuan Data’ untuk menjadikan ‘Satuan Data’ sebagai judul kolom tabel. Lalu klik tombol ‘Add’ di baris ‘Values As’, lalu klik ‘2013’ untuk memasukkan data tahun 2013 dalam tabel. Lakukan ulang untuk tahun-tahun lain hingga 2020. 

 

Klik tombol ‘Add’ di baris ‘Filters’, lalu klik ‘Indikator’ untuk selanjutnya bisa digunakan untuk menyaring data yang akan digunakan dalam analisis. Selanjutnya klik kolom ‘Status’ dalam kolom ‘Filters-Indikator’ lalu klik clear atau kosongkan untuk menghapus seluruh centang pilihan di bawahnya. Lalu klik pada ‘Jumlah Produksi Padi Ladang’ dan ‘Rata-rata Curah Hujan’ untuk memberi centang. Lalu klik tombol OK. Sampai tahap ini sudah didapati tabel yang khusus memperlihatkan jumlah produksi padi ladang dan rata-rata curah hujan di Banyuwangi, untuk tahun 2013 sampai 2020.

Data dalam Pivot Table yang telah difilter tersebut yang akan digunakan dalam menguji hipotesis di tahap selanjutnya. 

 

5. Pembuktian Hipotesis Menggunakan Scatter Chart
Scatter chart atau diagram tebar atau diagram pencar merupakan diagram yang menunjukkan tingkat hubungan atau korelasi di antara 2 faktor atau dua variabel. Scatter chart sudah menjadi fitur dalam aplikasi Google Spreadsheet.

Untuk membuat scatter chart, blok cell B4 sampai C11 yang berisi nilai dari jumlah produksi padi ladang per tahun dan rata-rata curah hujan per tahun. Lalu klik menu ‘Insert’, dan klik sub menu ‘Chart.’ Dalam kolom ‘Chart Editor’ di sidebar kanan, klik tab ‘Setup’ dan pilih ‘Chart Type’ ke ‘scatter chart.’ Pada kolom ‘Combine Ranges’ di sidebar kanan, pilih ‘Horizontally.’

Masih di sidebar kanan, pada kolom ‘X-Axis’ pilih cell ‘B4-B11’ yang berisi data produksi padi ladang per tahun. Sedangkan pada kolom ‘Series’ di sidebar kanan, pilih cell ‘C4-C11’ yang berisi data rata-rata curah hujan per tahun.

 

Klik tab ‘Customize’ di sidebar kanan, dan ‘Chart & Axis Titles.’ Terakhir pada kolom ‘Chart Title,’ masukkan judul dari scatter diagram yang sedang dibuat. 

 

Lalu klik sub menu ‘Series’ di bawahnya, kemudian centang kotak ‘Trendline’. Di Bawahnya lagi ada pilihan drop down label, pilihlah ‘Custom’ dan centang kotak ‘Show R2’

 

Maka tampilan diagram akan memiliki garis yang menujukkan kecenderungan korelasi antar dua variabel. Muncul juga nilai R2 yang menunjukkan tingkat korelasi antar dua variabel. Nilai R2 +1 menunjukkan korelasi positif antar dua variabel yang paling kuat, -1 korelasi negatif yang paling kuat, dan bila angkanya semakin mendekati 0 berarti korelasinya semakin rendah.

 

 

Scatter diagram yang dihasilkan memperlihatkan bahwa naik turunnya curah hujan dan produksi padi ladang memiliki korelasi yang sangat lemah karena memiliki nilai R2 0,037 atau mendekati angka nol. Dengan kata lain naik atau turunnya rata-rata curah hujan per tahun tidak berkorelasi dengan naik turunnya jumlah produksi padi ladang per tahun di Banyuwangi. Hal itu juga diperlihatkan posisi titik dalam scatter diagram yang tidak beraturan atau tidak kontinyu mengikuti garis diagonal (trendline).

 

Proses pengumpulan dan pengolahan data untuk menganalisis korelasi curah hujan dengan produksi padi ladang di Banyuwangi 2013-2020 ini bisa dilihat di file spreadsheet : https://docs.google.com/spreadsheets/d/1Aq7pUiGklMiikOjUX24n96-ImCFHdQUM4S43KenlbOA/edit?usp=drivesdk

 

 

Baca Juga

loading...