Asiknya Keliling Kota Surabaya Sambil Belajar Tertib Lalu Lintas

Khoirotul Lathifiyah
Khoirotul Lathifiyah

Selasa, 12 Maret 2019 - 16:57

JATIMNET.COM, Surabaya –Siswa-siswi SDN VIII Kota Surabaya tersenyum ceria saat berkeliling Kota Surabaya. Mereka tak sekadar berkeliling, tapi juga mengenal berbagai rambu-rambu lalu lintas dan cara memanfaatkan tombol penyeberangan.

"Anak-anak senang mendapatkan pengalaman secara langsung, dan bisa menyampaikan ke teman-teman lainnya yang belum mengikuti kegiatan ini," kata Guru Pendamping SDN VIII Eko Suwono, Selasa 12 Maret 2019.

Menurutnya, metode pengenalan lalu lintas secara langsung akan menumbuhkan minat siswa untuk belajar lebih giat guna menggapai cita-cita.

Selama pengenalan tombol penyebarangan di depan Taman Bungkul Jalan Raya Darmo, sebanyak 25 siswa antusias mendengarkan instruksi dari pihak kepolisian.

BACA JUGA: Ada Pocong Atur Lalu Lintas di Siang Bolong

Salah satu siswa kelas 4, Carissa Adienda F (10) merasa senang bisa megikuti kegiatan ini. Ia mengungkapkan sebelumnya takut untuk menyeberang jalan raya, namun karena sudah mengetahui caranya dia sudah berani.

"Saya sudah berani menyeberang, sebelumnya takut," katanya.

Selain mengenal fungsi tombol penyeberangan, mereka juga dikenalkan cara menyeberang dengan mengingat 4 T yakni Tunggu sejenak, Tengok Kanan,Tengok Kiri, Tekan tombol dan memberi tanda.

Kegiaatan pengenalan tertib lalu lintas ini diselenggarakan Dinas Perhubungan kota setempat yang memang sudah dilakukan selama tiga tahun terakhir yang dikemas dengan konsep city tour.

BACA JUGA: Upaya Pemkot Surabaya Kurangi Kemacetan dengan Pedestrian

"Kami sosialisasikan fasilitas pemerintah seperti command center 112, zebra cross, tombol penyeberangan. Tujuannya agar siswa dapat memanfaatkan fasilitas tersebut," kata Staff Pengawasan dan Pengendalian Lalu Lintas Sartono saat diwawancarai di Taman Bungkul.

Sartono menyatakan sosialisasi seperti itu dilaksanakan sesuai jenjang pendidikannya dengan metode yang berbeda pula. “Hingga Maret ini kami sudah memberikan sosialisasi di 6 sekolah SD, 6 SMP, dan tiga lokasi di masyarakat,” kata Sunarto.

Menurutnya, metode yang digunakan untuk mengedukasi masyarakat tersebut disesuaikan dengan usia dan kebutuhannya. "Jika anak SD akan lebih mudah mencerna jika diajari di lapangan, karena nuansanya tidak belajar formal seperti di kelas," katanya.

Baca Juga

loading...