Ancam Jokowi, Bahar bin Smith: Tunggu Saya Keluar

Anang Zakaria
Anang Zakaria

Kamis, 14 Maret 2019 - 23:36

JATIMNET.COM, Bandung – Terdakwa penganiayaan remaja di Bogor, Habib Bahar bin Smith melontarkan ancaman usai menjalani sidang di Ruang Sidang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bandung, Kamis 14 Maret 2019. “Sampaikan kepada Jokowi tunggu saya keluar,” kata Bahar.

Ia sempat terdiam usai melontarkan ancaman itu. Sembari dikawal ketat petugas kejaksaan, ia kembali menegaskan ancamannya. “Ketidakadilan hukum dari Jokowi. Tunggu saya keluar dan akan dia rasakan. Tunggu saya keluar dan rasakan pedasnya lidah saya," katanya.

Bahar didakwa dengan pasal berlapis. Dakwaan pertama Pasal 333 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP atau Pasal 333 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Dakwaan kedua Pasal 170 ayat (2) ke-2 KUHP atau Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP atau Pasal 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 351 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP.

Adapun dakwaan ketiga, Pasal 80 ayat (2) Jo Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

BACA JUGA: Status Facebook Vokalis Edane Terbukti Bukan Pencemaran Nama Baik

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan Presiden Joko Widodo tak pernah mengintervensi persoalan hukum yang menimpa siapa pun.

"Semua persoalan hukum itu ada yang menangani. Presiden sama sekali tidak pernah intervensi atas persoalan-persoalan hukum," katanya di Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

Bahar, kata dia, salah memahami tata penegakan hukum di Indonesia.

"Semua hal-hal yang berkaitan dengan pelanggaran hukum adalah ditangani sepenuhnya oleh aparat penegak hukum. Jadi presiden dalam konteks ini sama sekali tidak intervensi, tidak ikut campur dan seterusnya atas proses hukum yang dijalani oleh saudara Smith,” kata mantan panglima TNI itu.

BACA JUGA: Ahmad Dhani Tersangka Kasus Ujaran Kebencian

Moeldoko menilai belakangan ini penegakan hukum kerap disalahartikan dan dikaitkan dengan kepemimpinan Jokowi. Selain kasus Bahar, perkara penyalahgunaan narkoba oleh salah satu politikus berinisial AA juga pernah ditudingkan pada Jokowi.

“Ini bagaimana sih, ada anomali berpikir itu. Ini perlu diluruskan (di) negara ini, agar masyarakat tidak seenaknya mengarahkan sasarannya kepada Pak Jokowi khususnya," katanya.

Menurut dia, ada fenomena penggiringan opini masyarakat untuk kepentingan politik praktis.(ant)

Baca Juga

loading...